MATATELINGA, Toba: Di tengah serbuan banyaknya alat pertanian modern yang ditawarkan ke petani, sebuah dusun yang terletak di Desa Napitupulu kecamatan Silaen melakukan panen padi. Panen padi bersama dilakukan dengan cara gotong royong dengan tidak menggunakan alat pertanian modern.Sistim gotong royong ini digagas kepala desa Napitupulu Baduali Napitupulu. Tujuannya untuk menghidupkan kembali semangat kerja gotong royong seperti jaman dulu. "Dulu para orang tua kita membangun rumah dengan gotong royong. Nah..kini kita hidupkan kembali masa jaya gotong royong itu agar masyarakat bersatu saling bantu membantu untuk memanen padi" ungkap Baduali.Panen padi ini dilakukan di salah satu sawah warga Op. Samuel Sibarani ,67 pada Jumat, (26/6). Setiap pekerja membawa makanan dan minuman mereka masing-masing dari rumah dan tidak dibebankan kepada pemilik sawah.Pemilik sawah hanya akan ikut memanen sawah milik teman mereka, hingga setiap anggota mendapat giliran yang sama hingga panen selesai. Sawah ini berjarak 1 km dari pemukiman penduduk. Padi yang sudah dimasukkan ke karung goni lalu diangkut ke pinggir jalan dengan cara dipundak oleh para pekerja dengan melewati pematang sawah dan bukit. Para petani selama ini membayar upah pekerja Rp. 65.000/hari satu orang dan ditanggung makan oleh pemilik sawah. Bahkan, pemilik sawah kadang-kadang kewalahan mencari pekerja karena terbatas. Bahkan pekerja harus didatangkan dari luar daerah. Karena masalah tersebut, kesepakatan untuk bekerja secara gotong royong akhirnya tercapai dan akan dilakukan secara terus menerus. Panen padi secara bergotong royong akan dilakukan hingga usai panen padi. Diperkirankan, padi dari dusun II ini mencapai 115.000 ton dan akan dilakukan secara manual atau tenaga manusia . Para petani berharap agar pemerintah bisa membatu para petani dengan membuka jalan ke persawahan mereka. "Kami berharap bupati Toba Darwin Siagian bisa membantu kami dengan membuka jalan setapak ini, agar bisa dilalui kami para petani" ungkap Haposan Sibarani. (mtc/pintor)