Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Soal Pasien Remaja BPJS Penderita Amandel Tewas Dimeja Operasi

Soal Pasien Remaja BPJS Penderita Amandel Tewas Dimeja Operasi

Admin - Jumat, 09 Mei 2014 20:28 WIB
Matatelinga - Binjai, Pengutipan yang dilakukan pihak rumah sakit terhadap pasien BPJS. Bukan hanya terjadi sekali, akan tetapi sudah terjadi yang kedua kalinya. Tidak menutup kemungkinan akan menimpa pasien-pasien yang tidak tahu menahu. Teranyar serta menjadi perbincangan hangat ditengah masyarakat adalah pengutipan Rp. 800 ribu yang dilakukan dokter Popy.Dimana, diduga terjadi malpraktek, sehingga Sutrisni (15), merupakan pelajar SLTP Negeri harus meregang nyawa di meja operasi di rumah sakit Bangkatan. "Bukankah, masyarakat kecil seharunya layak mendapatkan perawata. Makanya pemerintah membuat kartu sehat dengan melayangkan program BPJS. Kalau dikutip biaya juga, apa gunanya program dari pemerintah itu," gunjingan dari beberapa masyarakat, Jumat (09/05/2014).Untuk itu, mereka meminta Pemerintah Kota (Pemko-red) Binjai. Harus mengambil sikaf dan menindak tegas oknum dokter nakal dilapangan yang mengatas namakan sewa alat untuk mencari keuntungan. Jangan sampai, dokter yang sudah memegang janji sumpah ikrar dokternya memanfaatkan keadaan yang ada."Siapa yang gak sakit jika kehilangan seperti itu. Memang ada aku baca di koran. Cocoknya dokter seperti itu dipecat dan dihukum seberat-beratnya," jelas beberapa warga. Sayangnya, sejauh ini dokter Popy, yang disebut-sebut sebagai PNS di rumah sakit dr Djoelham. Seakan menghilang dari peredaran saat disambangi di rumah sakit milik pemerintah Kota Binjai ini. "Gak tahu kemana ya," kilah para perawat di rumah sakit.Sementara pihak keluarga yang kembali didatangi dikediamanya mengaku. Jika awalnya tidak menyadari beberapa rombongan yang layat dirumah duka salah satunya adalah dokter Popy. Saat dokter Popy, memberi wejangan kepada keluarga ahli musibah bahwa keberadaan Sutrisni, sekarang ini amalan di Syurga, buat orang tuanya. Kalau ditangisi terus,ibadahnya hilang.Saat itulah, ibu korban diam-diam memperhatikannya. Dan begitu yakin itu adalah dokter Popy, ibu korban langsung histeris. Sembari mengeluarkan nada emosi serta kutukan membuat para pelayat bingung dan akhirnya mengusirnya. "Oh kau rupanya dr yang mebunuh anakku ya? Kau rupanya orangnya ya," jerit ibu korban diulangi Fitri, selaku kakak kandung.Sejauh ini, diakui pihak keluarga, kalau mereka akan menuntut dokter Popy dan akan melaporkanya ke pihak yang berwajib. "Pastinya, dalam waktu dekat ini kami akan buat laporan. Kami masih menunggu situsi (kondisi-red) ibu tenang dulu bang," terangnya, yang mengaku tidak terima atas kejadian yang menimpa adiknya.Menyikapi ini ketua BCW Gito Afandi menyatakan, jika memang rumah sakit dr Djoelham, yang awalnya menampung korban tidak memiliki alat, kenapa menampung pasien rujukan. Karena, jikapun soal sewa menyewa, atau memang harus ditanggung pasien?Soal dalih alat rusak kerab diterapkan kepada hampir semua pasien BPJS agar membayar biaya sewa seperti yang dialami Ani dan keluarga Alhm Sutrisni, yang belum sempat membayar biaya yang diminta dr Popy.             Patut dicurigai, ada kemungkinan ini bentuk kerjasama oknum dr yang bertugas di RSUD dr Djoelham semua penyakit main rujuk karena RS Bangkatan dianggap aman untuk membuat negosiasi dengan para pasien. Dibagian lain, Manajemen pelayanan RSUD dr Djoelham patut menjadi perhatian sebab selalu merujuk pasien ke RS luar.             Kemudian perlunya dilakukan audit anggaran belanja barang alat-alat medis dan perlunya dilakukan pemeriksaan fisik sebab sudah puluhan milliar rupiah dana Pemerintah diperuntukkan belanja alat alat medis. Hal ini sangat penting sebab tidak sedikit pasien RSUD dr Djoelham dirujuk keluar sekalipun untuk cek darah. "Ini Negara Hukum, jadi tidak perlu takut untuk melapor. Saya siap membantu jika memang tenaga saya dibutuhkan. Agar tidak ada lagi jatuh korban jiwa," tegas Gito.(Hendra/Mt-01)


Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

Zakiyuddin Harahap Hadiri Peresmian Operasional 1.061 Koperasi Merah Putih

Berita Sumut

Disnaker Kota Medan Fasilitasi 1.017 Warga Bekerja ke Luar Negeri Periode Januari-Mei 2026

Berita Sumut

Selain "Tempat Hiburan, Tempat Ternak Ayam dan Bebek di Jadikan Transaksi Narkoba"

Berita Sumut

Jalin Silaturahmi dan Kebersamaan, Alumni PriceSmart dan The Club Store Medan Gelar Reuni Akbar Juni 2026

Berita Sumut

Gubernur Bobby Nasution Promosikan Sumut ke Dubes Australia sebagai Gerbang Investasi Indonesia Barat

Berita Sumut

Bobby Nasution Percepat Program Puskesmas Rawat Inap untuk Daerah Terpencil di Sumut