MATATELINGA, Medan: Dalam Peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2020 ini, Presiden Joko Widodo menganugerahkan enam orang gelar pahlawan. Salah satunya sosok gubernur Sumatera Utara pertama , Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution.Terpilihnya S Amin sebagai pahlawan nasional ke 12 dari Sumut, disambut baik masyarakat, termasuk Gubernur Edy Rahmayadi. Diaberharap masyarakat meneladani sikap S Amin yang mencintai dan memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan baik di masa muda hingga saat menjabat sebagai gubernur.“Itu yang akan kita kaji, besarkan dan kita berikan kepada seluruh anak-anak kita, sebagai penyemangat motivasi, untuk bagaimana anak kita mengisi kemerdekaan,” ujar Edy kepada wartawan, Selasa (10/11).Sementara itu, sejarawan USU dr Budi Agustono, Amin lahir di Aceh Provinsi Aceh pada 22 Februari 1904, lahir di masa penjajaham membuat hidupnya bergejolak.Masa kelahiranya adalah awal dari Belanda memperkenalkan dunia pendidikanya ke Indonesia.“Jadi dengan pendidikan yang dimiliki dia menjadi seorang aktivis pergerakan, karena dia tidak ingin menjadi pegawai pemerintah. Karena dia tahu betul kalau bangsanya pada awal abad 20 mengalami proses keterbelakangan,” ujar Budi kepada wartawan.Budi menjelaskan semasa muda, selain sebagai pejuang dia sekaligus pemikir yang andal. Dia banyak menulis soal perjuangan dan bergabung dengan organisasi politik melawan Belanda.“Dia pernah masuk Jong Sumatra, kemudian dia masuk Gerindo. Gerindo ini salah satu partai politik bangsa pada waktu itu yang cukup radikal, saya kira anti kapitalis waktu itu,” ujar Budi.Tujuan Amin merambah dunia politik seyogyanya demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa, terutama masyarakat Sumatera Timur dari penindasan. "Pada waktu itu masyrakat Sumatera Timur mengalami proses kekuasaan asing yang memporak-porandakan struktur masyarakat,” tuturnya Kata Budi, karena aktivitas politiknya SM Amin menjadi sosok yang dan sangat berperan dalam membangkitkan dan menghidupkan nasionalisme di wilayah Sumatera Timur.“Jadi dengan rekam jejak SM Amin tak mengherankan dia mendapatkan anugrah sebagai pahlawan,” tuturnyaJadi Gubernur[br]Dari catatan sejarah, karena perjuanganya Amin, karir politiknya pun ikut menanjak, tahun 1947 dia diangkat jadi Gubernur Sumatera Utara pertama.Di tahuh pertama Amin dihadapkan dengan agresi Belanda pertama yang ingin mengambil kekuasan di Sumatera Utara. Di sisi lain ada juga persoalan internal yang belum selesai lantaran negara Indonesia baru terbentuk.“Bayangkanlah ketika republik muda sedang mengalami penyesuaian sebagai bangsa merdeka lalu berhadapan dengan situasi internal terutama persoalan ekonomi dan politik yang belum kuat sebagai republik baru. Ditambah asing yang ingin menjajah kembali," ujar lelaki yang menjabat Dekan Fakultas Budaya USU ini.Di tengah kemelut politik dan ekonomi ini, SM Amin kata Budi, sebagai gubernur mampu menyelesaikan persoalan struktural. "Ini kontribusi besar SM Amin untuk bangsa dan rakyat Sumatera Utara," ujar BudiTidak hanya sebagai aktivis, kata Budi, soosk Amin juga dikenal sebagai Problem Solver. Amin tercatat pernah menjadi penengah pertikaian antara Aceh yang di inisiasi Daud Beureueh dengan pemerintah pusat.Saat itu Daud Beureueh ingin merdekakan Aceh yang bertikai dengan pemerintah pusat."Dia seorang peace maker orang yang sering memikirkan perdamaian, itu terbukti pada saat tahun 1950-an itu dia melakukan itu. Menulis persoalan Aceh yang pelik dan mencoba menyelesaikan konflik. Ini kontribusi besar SM Amin untuk menyelesaikan persoalan daerah dan pusat," tuturnyaSetelah S Amin dianugerahi gelar Pahlawan, kata Budi ini harusya menjadi motivasi Pemprov Sumut untuk menggali lagi pemikiranya lewat buku yang telah diterbitkanya.“Pemikirannya sangat luar biasa lintas batas Sumut, bahkan nasional. Karena dia penulis buku yang sangat produktif saat dia jadi Gubernur Sumut," ujarnya.Kata Budi, Amin menulis buka sejak tahun 1970-an. Pada masa itu, SM Amin banyak menulis tentang Demokrasi, hukum dan hukum syariah. Budi berharap pemikiran S Amin bisa diaplikasikan"Saya pikir banyak pikiran nya yang belum tergali. Jika itu dibiarkan masyarakat Sumut akan mengalami kerugian, mengalami defisit pengetahuan karena tidak mengenal pemikiran pahlawannya yang terbaru," ujarnya. (mtc/fae)