MATATELINGA, Medan: Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi angkat bicara soal tagihan air seorang warga Medan yang mencapai Rp4,2 juta di bulan Maret. Dia berjanji akan menindaklanjuti persoalan ini"Bukan melonjak selama ini tak jelas, si pengukur dan si pembayar ini berbeda. Inilah akan didisiplinkan," ujar Edy kepada wartawan Selasa (16/2).Edy menjelaskan bila ditelusuri nantinya Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) yang salah dalam penghitungan maka biaya yang melonjak harus diturunkan."(Kalau) Ada yang kebanyakan (tagihannya) diturunkan harganya. (Tapi) Ada yang harus dipenuhi, terpaksa lah dia naik," ujar Edy.Terkait laporan warga ini, Edy mengaku sudah mendengarkan penjelasan direktur PDAM, namun dia belum mau membeberkan hasil pembicaraan. Meski begitu dia memastikan akan mengawal persoalan air ini."Kita sudah 75 tahun merdeka, air bersih harus terpenuhi. Yakinkan ini akan saya kawal," ujarnyaSaat wawancara Edy juga menyinggung soal metode pencatatan air yang berubah dari manual ke android. Karena itu dia meminta PDAM mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat, supaya tidak terjadi kesalahpahaman." Kalau itu kita anjurkan sosialisasi, peritah saya adalah sosialisasi," pesannyaSebelumnya warga Medan Helvetia bernama Ezzy (56) mengatakan tagihan airnya membengkak sebesar Rp4,2 juta pada bulan Maret. Padahal biaya rata-rata tagihan air sebelumnya hanya Rp400 ribu.Terkait hal itu, Ezzy lalu melapor ke Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara, pada Jum'at (12/3)."Biasanya tagihan air berkisar Rp 200 ribuan atau Rp 400 ribuan perbulan. Namun, tiba-tiba tagihan pemakaian Februari yang dibayar bulan Maret 2021 menjadi Rp 4,2 juta," kata Ezzy kepada wartawan, di kantor Ombudsman RI.