MATATELINGA, Pancurbatu : Di saat masa pandemi, dimana sektor prekonomian mengalami pelemahan, akibat nya berdampak pada lesu nya nilai beli dari para pembeli nya. Dan salah satu yang menjadi kendala khusus nya di Kec. Pancurbatu, Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara adalah sektor peternakan. Pasal nya, harga pakan yang terus "meroket" membuat peternak "menjerit".Penelusuran Matatelinga.com dilapangan menyebutkan bahwa hingga minggu kemarin hingga minggu terakhir di bulan Maret 2021, harga pakan pabrikan terus mengalami kenaikan. Sementara disisi penjualan, harga sangat sulit dilakukan kenaikan. Kondisi itu sangat meresahkan masyarakat peternak.Seperti yang diungkapkan E. Tarigan, salah satu dari ratusan peternak unggas di Kab. Deli Serdang tersebut. Dirinya mengaku sangat was was dengan kondisi harga pakan tersebut. "Enggak tau lagi lah sekarang ini, minggu ke minggu harga pakan terus naik, harga jual panen unggas kita sangat sulit kita naik kan. Sementara yang akan menjual hasil unggas lumayan banyak. Ini kan sulit jadi nya. Sementara kami peternak ini terus berusaha untuk menambah ekonomi rumah tangga untuk biaya pendidikan anak kota sekolah. Tapi nyata nya seperti ini, dimana ini salah nya, apa tidak ada solusi atau apalah dari pemerintah," sebut Tarigan."Contoh, harga telur bebek saat ini hanya mencapai Rp.1300 an per butir, kita nolak, sementara harga pakan kita dikisaran Rp. 350.000 per zak kurang lebih. Mau dapat apa lagi, belum lagi biaya listrik, air, vitamin dan perawatan lain nya. Mau sampai kapan seperti ini. Ya tinggal berdoa dan berharap lah, mudah-mudahan ada perhatian pemerintah dalam kondisi ini," ungkap Tarigan sambil menarik nafas dalam.Selain itu, peternak unggas lain nya juga mengalami hal yang sama. "Sama aja lah, di harga pajak adalah nya juga. Kalau kami unggas pedaging, harga pakan saat ini sudah di harga Rp. 369.000 per zak untuk 50 kg nya. Harga ini kalau tidak salah hampir setiap minggu naik. Kalau kata-katanya, bahan baku pembuatan pakan naik, jadi nilai jual nya naik. Terus bangga jual kami sulit naik. Kalau seperti ini kan sama saja dengan gantung diri enggak pakai tali kan," tutur Ari."Kalau saya ayam kampung dan bebek pedaging. Saat ini permintaan dipasar juga kurang. Agen juga gitu, kita jual agar tidak rugi aja sulit. Kalau sekarang kami jual Rp. 40.000 per ekor untuk bebek, ayam kampung paling Rp. 40 sampai 45 ribu per kg nya. Kadang ada yang minta kurang harga pun terpaksa kita kasi. Kalau kita bertahan kan, biaya makan nya bertambah kan, malah nambah biaya lagi," keluh Ari.Disisi lain, sejumlah peternak tersebut terpaksa mengurangi pakan pabrikan dengan pakan alternatif lain nya. Namun hal itu kurang mendongkrak pertumbuhan unggas."Saat ini alternatif nya dengan memberi pakan lain, seperi sayuran dan lain sebagai nya. Namun hal itu kurang mendongkrak pertumbuhan atau bobot sang unggas itu. Yang penting unggas kami tidak lapar, itu saja lah. Mudah-mudahan kondisi ini didengar dan direspon oleh pemerintah kita buat hebat dan tangguh ini lah," ucap Ari sambil menggaruk-garuk kepala nya.(mtc/edi).