MATATELINGA. Medan - Sejumlah pekerja musik yang tergabung dalam STM Sehati melakukan aksi ngamen di Jalan SM Raja. Hal ini terpaksa mereka lakukan karena setelah 2 tahun Covid 19 melanda Indonesia dan Medan khususnya, pemerintah melarang tempat-tempat hiburan beroperasi dan membatasi jam operasional cafe-cafe tempat biasa mereka bekerja. Jum'at (10/09/2021) sore.Dengan menggunakan alat musik seadanya seperti keyboard dan gitar mereka bernyanyi dan menghibur para pengendara yang melintas dengan berharap uluran tangan dari masyarakat.Yang diharapkan hanyalah sekedar uang untuk bertahan hidup. Dimasa pendemi ini, Pemerintah Indonesia dan pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan kota Medan telah banyak menyalurkan bantuan-bantuan pada masyarakat terdampak.
Baca Juga:Waka Polda Sumut Berikan Suprise di Hari Jadi TNI AL ke 76Mukai dari BLT, PKH bahkan yang baru-baru ini, menteri perekonomian dan menteri keuangan didampingi oleh Kabareskrim Polri membagikan bantuan tunai untuk para pedagang kaki lima dan warung senilai Rp 1.200.000 / pedagang.Namun hal itu tak pernah mereka dapatkan, sebagai pekerja musik yang menggantung kan hidupnya pada tempat hiburan.Salah satunya yang merasakan dampaknya dialami oleh Aliel. Pada awak media saat diwawancarai di lokasi ngamen, Aliel dan teman-temanya mengaku sangat terdampak Covid 19."Sudah 2 tahun Covid 19, semenjak semakin merebaknya angka penyebaran Covid, pemerintah melarang tempat-tempat hiburan dan membatasi jam operasional cafe-cafe hal ini membuat kami tak lagi bisa mencari uang untuk nafkah Anak dan istri kami,,"ucap Aliel.[br]Lanjutnya lagi, hari ini kami ngamen di pinggir jalan hanya mengharapkan sekedar uluran tangan sekedar bertahan hidup."Tak ada bantuan apapun dari pemerintah pada kami, kami hanya meminta sedikit perhatian, maka dari itu terpaksa kami turun ke jalan untuk mengamen,"pungkas Aliel. (Mtc/Suriyanto)