Wagubsu Hadiri Seminar Nasional Literasi Kebangsaan Moderasi dan Toleransi Beragama

Redaksi - Sabtu, 09 Oktober 2021 21:15 WIB
Matatelinga.com
Musa Rajekshah menjadi pemateri pada seminar nasional 'Literasi Kebangsaan Moderasi dan Toleransi Beragama
MATATELINGA. Medan - Hadiriseminar nasional 'Literasi Kebangsaan Moderasi dan Toleransi Beragama,Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah menjadi pemateri. Iamengingatkan tentang pentingnya sikap moderasi dalam beragama. Karena, dengan paham moderat ini, umat Islam dapat mencegah berkembangnya paham radikalisme, sehingga toleransi antarsesama umat beragama bisa terus terjaga.

"Moderasi beragama ini penting agar kita menyadari ada perbedaan dan keanekaragaman. Kita juga tahu negara kita adalah negara Pancasila yang dalam sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya bangsa kita ini adalah bangsa yang beragama," ungkap Wagub Musa Rajekshah saat menjadi pemateri pada seminar nasional 'Literasi Kebangsaan Moderasi dan Toleransi Beragama' di Hotel Santika, Jalan Kapten Maulana Lubis, Medan, Sabtu (09/10/2021).

Wagub menjelaskan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) moderasi berarti pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstriman. Karena itu, menjadi moderat adalah menjadi orang yang tidak ekstrim dan selalu mengambil posisi di tengah, adil dan tidak ekstrim kanan atau kiri.

Baca Juga:Rasa Syukur Hari Jadi Ke-4, SIP Angkatan 46 WSH Polda Sumut Berbagi Kasih ke Panti Asuhan

"Karenanya jika moderasi beragama ini dikelola dengan baik, maka tentu bisa menjaga kerukunan umat beragama," jelas Musa Rajekshah yang akrab disapa Ijeck.

Ijeck melanjutkan, dalam moderasi ini atau menjadi seorang moderat, memiliki tiga syarat penting. Pertama ialah harus memiliki pengetahuan yang luas, kedua pintar mengendalikan emosi diri dan ketiga selalu bersikap hati-hati.

"Kita lihat di Indonesia ini banyak memiliki adat istiadat yang berbeda. Karenanya kita tentunya tidak mengharapkan lagi ada daerah yang sampai terjadi konflik," terangnya.

Sedangkan radikalisme, papar Ijeck, terdapat beberapa ciri-ciri identik yang ketap terjadi. Pertama selalu mengklaim kebenaran tunggal, kemudian mengutamakan ibadah secara penampilan, menggunakan cara kekerasan, mudah mengkafirkan orang lain, tertutup kepada masyarakat, dan apolitik atau tidak mau mengikuti kebijakan pemerintah.

[br]

"Untuk itu kita selalu menekankan masalah toleransi umat beragama ini. Kami berharap di Sumut kerukunan umat beragamanya bisa tetap berjalan dengan baik dan jangan sampai terjadi pemahaman yang tidak baik, hingga merugikan kita dan anak cucu keturunan kita," ujarnya.

Ijeck menerangkan, mengambil data index nasional kerukunan umat beragama tahun 2019 berdasarkan survei Puslitbang, indeks hasil kerukunan beragama di Indonesia memiliki tiga dimensi yang dapat diukur, yaitu toleransi, kesetaraan dan kerja sama diantara umat beragama.

Dari data indeks ini, sambung dia, Papua Barat adalah daerah yang paling tinggi tingkat kerukunan umat beragamanya. Sedangkan Provinsi Sumut berada pada rangking 10 dengan penilaian indeks 76,3.

Karena itu, kepada mahasiswa yang menjadi peserta seminar tersebut, Ijeck meminta agar dapat memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Kemudian ilmu yang didapat bisa bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk agama dan seluruh nusa dan bangsa.

[br]

Disampaikan juga, dengan kerukunan umat beragama, Ijeck yakin bangsa dan negara ini dapat maju, dan umat Islam juga bisa hidup berdampingan dengan ekonomi yang juga baik. "Untuk itu kepada adik-adik mahasiswa jangan berpikir hanya sesaat atau untuk kepentingan pribadi dan kelompok saja, tapi berpikirlah untuk yang lebih besar, untuk bangsa dan negara ini,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut Arso mengatakan, kehadiran Wagub Sumut sebagai pemateri seminar membuat kegiatan menjadi semakin berbobot. Karena dengan kehadiran ini, katanya, maka berarti kerja sama ulama dan umara masih berjalan dengan langkah yang sama untuk perbaikan masyarakat dan bangsa, khususnya Provinsi Sumut ke depannya.

"Melihat kondisi sekarang, seminar ini sangat penting agar akhlakul karimah tetap terjaga, khususnya di kalangan umat Islam yang turut serta mendayakan untuk Sumut bermartabat," jelasnya.

Turut hadir dalam seminar ini Ketua MUI Pusat KH Sholahuddin Al-Ayyubi dan Ketua MUI Sumut Maratua Simanjuntak (secara virtual), Wakil Ketua Umum MUI Sumut Adriansyah, Dewan Pimpinan MUI Kabupaten/Kota, Pimpinan Unit Usaha Syariah Bank Sumut Julian Helmi, serta para mahasiswa antara lain dari HMI, PMII, Satma PP, IMM, HIMMAH dan Mahasiswa Fakultas Teknik USU. (Mtc)

Editor
: Rizky

Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

15 Tahun Matatelinga : Sampai Hari Ini Kami Masih Setia Menjadi Penyampai Informasi Aktual dan Terpercaya

Berita Sumut

Irjen TNI Berikan Briefing kepada Pati Mabes TNI Bahas Berbagai Isu Terkini

Berita Sumut

Jangan Lewatkan Pertandingan Arsenal vs Manchester City di Community Shield

Berita Sumut

Gaya Hidup Sehat Remaja: Kunci Menciptakan Generasi yang Produktif dan Berkualitas

Berita Sumut

Membangun Manusia, Bukan Sekadar Infrastruktur

Berita Sumut

Halte Bus Listrik di Jalan Gatot Subroto: Solusi Transportasi atau Sumber Kemacetan Baru?