MATATELINGA, Binjai- Nasib kurang beruntung harus dialami Menih (58) warga Jalan Gaharu, Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara, dirinya di diagnosa menderita penyakit batu empedu dan butuh penanganan serius.
Dari hari ke hari, kondisinya semakin memburuk. Hal itu ditandai dengan membuncitnya perut ibu dari 4 orang anak tersebut.
Bahkan saat ini, Menih sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan dan merasakan sakit yang sangat luar biasa di dalam tubuhnya.
Dalam perjuangannya untuk melawan penyakit, Menih tidak mendapat dukungan dari Rumah Sakit.
Anak bungsunya, Mitsumi Satri Handayani (40) mengungkap bahwa ibunya telah keluar masuk rumah sakit untuk melakukan perobatan. Namun tidak ada kepastian dari pihak RS untuk melakukan operasi pengangkatan batu empedu ibunya.
[br]
"Sudah berulangkali masuk Rumah Sakit, namun selalu saja terombang-ambing tidak ada kepastian," ungkap Mitsumi Satri. Selasa, (26/04/2022).
Mitsumi bercerita kalau ibunya pernah berulangkali dialihkan dari RS ke RS lain atas rujukan dokter, ironisnya tidak ada satupun dokter dari semua rumah sakit rujukan yang serius menangani ibunya.
"Sedih rasanya melihat ibu harus mondar mandir dirujuk. Dari RS Kesrem Binjai kami dirujuk ke rumah sakit Murni Teguh, sampai Murni Teguh dirujuk lagi ke RS Imelda, dari Imelda kami dirujuk lagi ke RS Murni Teguh, tapi tidak ada satupun dokter yang berusaha mengoperasi penyakit ibu saya," ucapnya, kepada wartawan.
Ironisnya, pada saat dirujuk yang kesekian kalinya ke RS Murni Teguh, pihak RS menyarankan pasien untuk segera pulang, dengan alasan tidak sanggup.
"Saat rujukan kedua di RS Murni Teguh, ibu saya dicek dan dipulangkan. Alasan mereka tidak sanggup," beber Mitsumi.
[br]
Keluarga yang tidak merasa putus asa kembali membawa Menih ke RSUD Djoelham Binjai, namun sangat disayangkan, RS pemerintah tersebut kembali merujuk pasien untuk segera dibawa ke RS Adam Malik Medan.
"Selama dirumah ibu mengeluh sakit, kami keluarga memutuskan bawa ibu ke RS Djoelham, satu malam disana ibu dirujuk lagi ke RS Adam Malik, dengan alasan alat operasi di Djoelham tidak lengkap," kata Mitsumi.
Dalam upayanya berobat, Menih hanya mengandalkan fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS), lantaran keterbatasan ekonomi. (Mtc/dyk.p)