MATATELINGA, Toba : Program tanam dua kali dan panen dua kali yang di gaungkan pemerintah Kabupaten Toba menuai pro dan kontra. Banyak petani yang tidak sanggup untuk melakukan program tersebut karena keterbatasan air, pupuk subsidi dan sewa lahan.Namun Camat Silaen Moses Simanjuntak mengatakan jika hal itu bisa diatasi dengan melakukan peralihan secara pelan-pelan ke penggunaan pupuk organik.Di kantornya Jum'at, (28/10/2022) Moses mengatakan jika negara hanya bisa memberikan pupuk subsidi 30% dari luas lahan yang kita kelola.
Baca Juga:Untuk Industri di Sumut, Gubsu Minta Pemerintah Pusat Evaluasi Harga Gas Bumi Tertentu“Jika lahan kita satu hektar, negara hanya memberikan pupuk subsidi untuk lahan 30%. Jadi, warga jangan mengatakan pupuk subsidi langka” terangnya.Karena langkanya pupuk, Moses dalam waktu dekat akan melakukan rapat kios pengecer pupuk dan kelompok tani untuk mecocokkan data keluar masuk pupuk di Kecamatan Silaen. “Kita ingin tau masalah pupuk yang sebenarnya, hingga petani mengatakan pupuk subsidi langka” ungkap Moses.Menurutnya, tanam dua kali dan panen dua kali tidak serta merta terfokus untuk menanam padi, tapi lebih kepada mengisi lahan yang kosong usai panen, agar segera ditanam kembali untuk bisaa menghasilkan ketahanan pangan.“Jika jagung yang cocok dilahan tersebut, usahan agar usai panen langsung tanam jagung dan begitu seterusnya termasuk padi. Namun jika usai panen padi dan air terbatas, maka kita perlu menanam jagung agar lahan tetap bisa menghasilkan” tuturnya.[br]“Kebutuhan pupuk bisa kita atasi dan bulan depan, Desa Napitupulu akan melakukan pelatihan pembuatan pupuk organik dari berbagai bahan yang tersedia di sekitar kita.Dan penggunaannya juga sudah bisa kita ukur takarannya agar pupuknya tepat guna dan tidak hanya untuk daun atau batang, tetapi juga untuk buah, Jadi PPL sudah memahami kebutuhan padi, berapa banyak jenis pupuk organic diperlukan” terang Moses dengan wajah senyum.Pemerintah berharap agar masyarakat bisa ikut mendukung program tanam dua kali dan panen dua kali yang bukan hanya untuk padi tapi untuk semua jenis tanaman, apalagi negara dan dunia akan menghadapi krisis pangan. (Mtc/Yin)