MATATELINGA,Rantauprapat: Kepala Dinas Pendidikan, Asrol Azis Lubis SE MAP mengatakan, Labuhanbatu "negeri berbilang kaum", dihuni 14 (empat belas) etnis besar di nusantara, hingga kini tetap hidup rukun.Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu, Asrol Azis Lubis SE MAP, dalam bincang-bincangnya secara khusus dengan matatelinga.com, Kamus (30/3/2023) siang.Karena itu katanya, heterogennya etnis di Labuhanbatu sebagai masyarakat penutur, bahasa yang digunakannya juga beragam pula.Meski demikian, di Labuhanbatu ada bahasa penutur yang juga digunakan masyarakat dalam percakapan sehari-harinya, salah satunya bahasa melayu panai.
BACA JUGA:Anggota DPRD Kota Medan Wong Chun Sen Pulang Kampung, Laksanakan Ceng Beng Di Rantauprapat"Penutur bahasa melayu panai, dapat dirasakan seiring perkembangan zaman, semakin lama kian terkikis dan semakin punah. Generasi muda tidak meminati bahasa daerah, akibat perkembangan teknologi", ucapnya dalam bincang-bincang ringan dibulan suci Ramadhan.Karena itulah katanya, perlu penguatan dengan konsep Revitalisasi Bahasa Daerah bermuatan lokal. Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu menyambut hangat dan siap melaksanakan program yang diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, dengan modul Merdeka Belajar E-17.[br]Disebutkannya, Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu dalam upaya pelindungan bahasa daerah, melaksanakan RBD tahun 2023 dibantu para Maestro. Sembari mengusulkan Peraturan Daerah (PERDA) maupun penerbitan Peraturan Bupati (PERBUP), sebagai payung hukum dalam melaksanakan pelindungan bahasa daerah.Menurut Asrol Azis, Kabupaten Labuhanbatu terdiri atas sembilan kecamatan. Masyarakatnya multi etnis. Seperti Batak, Mandailing, Jawa. Dia mencontohkan dirinya, seperti saya sendiri bermarga Lubis. Namun sudah kemelayu-melayuan.Menurut salah satu kepala dinas yang berasal dari pegawai rendahan (penjaga sekolah) itu, di kabupaten ini Kemeterian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui Balai Bahasa, meluncurkan program revitalisasi bahasa melayu panai."Dengan adanya Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) Program Merdeka Belajar Episode 17, sangat membantu kecintaan anak-anak pada bahasadan budaya daerah", tandasnya.Unruk mewujudkan program RBD, imbuhnya, dirinya membuat gebrakan. Saya meminta para maestro bahasa, mengajarkan bahasa daerah melayu panai, bukan saja di SD dan SMP dalam wilayah yang menggunakan bahasa melayu panai. Tetapi juga di daerah yang tidak menggunakan bahasa daerah tersebut.Dia mengatakan, dari Labuhanbatu ada siswa SD bernama Nadira boru Nasution baru belajar bahasa melayu panai pada program RBD ini dan berhasil tampil dan cakap menguasai bahasa Melayu Panai.Ditegaskannta, karena kegigihannya dalam belajar dan berlatih, Nadira juga berangkat ke Jakarta bertemu dengan Mas Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, didampingi Kepala Bidang SD, Eiwan Budi Kuswara bersama maestro bahasa Muhammad Zeinn Nasution dan Mizwar Tanjung.Diakhir bincanf-bincanfnya, Asrol Azis menambahkan, Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu akan menganggarkan program RBD setiap tahun, mulai dari tahun 2023 dan seterunya. (yasmir)