MATATELINGA, Rantauprapat : Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu, Asrol Aziz Lubis SE MAP, berikan tanggapannya berkaitan dengan pandangan dua penulis novel (novelis) wanita, Sri Wahyuni Nababan dan Anin (Naznen), tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS), seperti disampaikan keduanya kepada matatelinga.com, Rabu (05/07/2023).Asrol menyampaikan tanggapannya, melalui Kepala Bidang Pendidikan SD, Eiwan Budikuswara, khusus kepada matatelinga.com, berkaitan dengan pandangan dua novelis wanita tersebut.Menurut Asrol seperti disampaikan Eiwan, di Kabupaten Labuhanbatu, program GLS sudah berjalan di Labuhanbatu. Meski program GLS itu, belum memiliki regulasi, dalam hal ini Peraturan Bupati (Perbup) atau lebih tinggi dari itu, Peraturan Daerah (Perda).
Baca Juga:Kodim 0205/TK Terima Sertifikat Tanah Koramil 03/Berastagi Dari Kantor BPN Kab. KaroDisebutkannya, saat ini Labuhanbatu, sudah memiliki sejumlah guru-guru yang aktif menulis. Begitu juga dengan kegiatan literasi siswa. "Dinas Pendidikan Labuhanbatu, sudah menerbitkan Surat Edaran (SE), tentang :"Membaca Senyap Selama 10 Menit Sebelum Dimulainya Proses Pembelajaran Di Kelas Oleh Peserta Didik (SD - SMP)".Kata Eiwan, kegiatan membaca senyap ini, selain sejalan dengan program Kementerian Pendidikan, dalam pelaksanaan GLS.Juga sesuai pula dengan program pendidikan karakter sebagaimana visi misi bupati dr H Erik Adtrada Ritonga MKM dan wakil bupati hj Ellya Rosa Siregar.[br]Pelaksanaan membaca senyap ini, kata Eiwan Budi Kuswara, sejalan pula dengan kurikulum Merdeka, yang dicanangkan Menteri Pendidikan.Eiwan menegaskan, jadi program GLS itu sudah berjalan di Labuhanbatu. Dan dia mengapresiasi pandangan dua novelis wanita daerah ini.Yang memberikan pandangan dan pemikirannya, berkaitan dengan program GLS. "Pandangan kedua novelis tersebut, benar-benar mencerahkan", kata Eiwan Budi Kuswara, mengakhiri keterangannya. (yasmir)