MATATELINGA, Rantauprapat : Sri Wahyuni Nababan, begitulah nama lengkap puteri Batak, kelahiran Damuli, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, tahun 1983.Yuni, ibu rumah tangga, kini sudah memiliki tiga putera amanah dari Allah Subhanahu wataala tersebut, dikenal dengan sapaan SWNababan disekolah buku novel hasil karya ciptanya. Karena dia, merupakan salah seorang penulis novel (novelis) wanita.Sebagai novelis, menurut penuturan Sri Wahyuni Nababan dalam sebuah percakapannya belum lama ini disalah satu warung kopi sekitar Pasar Gelugur Rantauprapat, hingga kini dia telah melahirkan 20 judul novel solo cetak."Empat diantaranya, berhasil meraih juara, juga beberapa cerpen dan cipta puisi", tutur Sri Wahyuni Nababan.Dituturkannya, buku yang diterbitkan paling dikenal adalah Slice of Life, seperti Rumah Reot (Cita-cita Dalam Angan), Melayang, Rumah Reot 2 (Saudara yang Terpisah), Sehelai Selempang, Ramadan di Kota Medan, Sepatu Usang yang Bukan Sepasang, dan kisah keluarga serta romance lainnya.
BACA JUGA:Komunitas Bookies Rantauprapat Aktif Kampanyekan Gerakan Literasi Kekalangan Generasi MudaSelain menulis novel, katanya, beliau juga sudah memiliki antologi sebanyak 30 tema, dengan genre berbeda. Untuk tahun ini akan menerbitkan 10 novel solo, untuk menambah koleksi yang sudah ada.Selain sebagai novelis wanita dan ibu rumahtangga, Sri Wahyuni Nababan juga seorang guru SD Negeri di Sibuhuan, Kabupaten Padang Lawas, meskipun masih berstatus honorer. Namun, aktivitas kesehariannya menulis tak pernah surut.[br]Dalam penuturannya disela-sela minum kopi sore, dia juga menceritakan, pernah diundang menjadi pembicara atau pemateri literasi, dibeberapa tempat. Diantara penyelenggaranya, Komunitas KAMMI Padang Lawas yang diadakan di MAN Sibuhuan.Kemudian lanjutnya, Perpustakaan Daerah Labuhanbatu dengan audiens siswa-siswi SMA beberapa sekolah di Rantauprapat, dan SMK S Baruna Husada Sibuhuan. Untuk seminar online juga pernah diikutinya dengan sukses.Sekarang beliau menjadi ketua Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Padang Lawas, dengan masa bakti 2022-2024. "Semoga literasi yang dipegang, akan terus berjalan dan berkembang sesuai karya tanpa batas usia", tuturnya mengakhiri perbincangannya. (yasmir)