MATATELINGA, Tapteng: Gerakan Nasional Turun Tangan (GNTT) tanggapi situasi Pilkada 2024 diisi calon tunggal lawan kotak kosong di sejumlah daerah di Indonesia.Diakui GNTT, kotak kosong meskipun konstitusional, namun hal itu merupakan kasta terendah demokrasi dan bukti nyata kebobrokan elit politik."Kotak Kosong di Pilkada adalah bukti adanya ambisius personal dan golongan untuk berkuasa, yang menjadikan ruang berdemokrasi tak menarik," kata Samsul Pasaribu, ketua GNTT Sibolga-Tapanuli Tengah (Tapteng), Sabtu (7/9/2024).[br]"Kita sebut kasta terendah, karena kotak kosong adalah pilihan terakhir hanya sekedar memastikan bahwa Pilkada tetap bisa dilaksanakan," tambahnya.Menurut Samsul, kotak kosong tidaklah sama dengan aklamasi dalam pemilihan lintas organisasi. "Aklamasi lahir dari wadah satu warna. Sedangkan kotak kosong dipaksa menjadi satu warna dari aneka warna yang ada," ucap Samsul."Kotak kosong andai memang terjadi maka itu adalah perampokan terhadap proses berdemokrasi. Proses demokrasi sejatinya berorientasi pada perbedaan mempersatukan, bukan mempersatukan perbedaan," lanjutnya.Diperkirakan ada 41 daerah di tanah air memiliki pasangan calon tunggal akan melawan kotak kosong di Pilkada 2024. Sementara di Sumatera Utara ada 6 daerah termasuk Tapteng. (Muafdan)