MATATELINGA, Kualuh Leidong : Setelah sepuluh tahun berlalu, banjir rob fenomena alam terjadi ketika air laut menggenangi daratan lebih rendah,kembali terjadi disekitar wilayah pesisir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, sejak Kamis (19/9/2024) pagi lalu.Meski sudah mulai surut, namun banjir rob ini diperkirakan akan berakhir Senin (23/9/2024) esok.Banjir rob yang menurut warga setempat disebut dengan istilah "pasang koling",bisa tetjadi disebabkan beberapa faktor, di antaranya: kenaikan permukaan air laut akibat pasang surut, gelombang angin, dan pemanasan global, penurunan muka tanah, abrasi pantai, curah hujan tinggi di daratan yang menyebabkan air melambat mengalir ke laut.[br]Ditahun 2024 ini, banjir rob yang melanda wilayah pesisir Labuhanbatu Utara ini, mengakibatkanpemukiman warga dan ribuan hektar lahan pertanian (sawah), serta perkebunan terendam air asin, di Kecamatan Kuakuh Leidong dan Kualuh Hilir.Fenomena musiman ini terjadi sejak pagi hari, antara pukul 04.00 hingga 05.00 WIB, saat warga masih tertidur lelap. Ketinggian air mencapai 0,50 hingga 1,50 meter, menyebabkan banyak perabotan rumah tangga warga, seperti kulkas dan mesin cuci rusak tak bisa digunakan lagi.Banjir rob yang merupakan fenomena alam tahunan, berskala besar, terakhir kali terjadi sepuluh tahun lalu. Kali ini, setidaknya empat desa, yakni Desa Simandulang, Teluk Pulai Dalam, Teluk Pulai Luar di Kecamatan Kualuh Leidong, serta Desa Tanjung Mangedar di Kecamatan Kualuh Hilir terdampak banjir.Banjir rob ini bisa menjadi ancaman serius bagi warga penghuni wilayah pesisir pantai, terutama pada musim hujan dan saat badai tropis. Seperti yang terjadi dua hari lalu, ribuan hektar lahan perkebunan dan persawahan terendam air. Mengancam ratusan hektar tanaman padi yang berpotensi mati dan gagal panen.Seperti dituturkan Nasron Tanjung, salah seorang warga terdampak banjir rob. Dia mengatakan, banjir rob besar seperti ini baru terjadi lagi setelah satu dekade berlalu.[br]“Sejak sepuluh tahun belakangan ini, baru kali ini banjir rob besar menerjang kampung kami. Ribuan rumah dan lahan pertanian di dua kecamatan terendam air asin, termasuk desa kami, Teluk Pulai Luar, di mana salah satu tanggul penahan banjir rob telah jebol,” jelas Nasron.Ia berharap pemerintah provinsi maupun kabupaten, segera bertindak menutup tanggul yang jebol dan membangun tanggul baru agar air asin tidak lagi merendam pemukiman warga.“Kami berharap kepada pemerintah provinsi maupun kabupaten, agar kiranya dapat menutup tanggul yang jebol serta membangun tanggul yang baru, agar air asin banjir rob tidak masuk lagi ke pemukiman warga,” harap Nasron.Sementara itu, dikutip dari berbagai sumber, ada beberapa hal yang dapat dilakukan saat menghadapi banjir rob, di antaranya: mengindari berjalan di dekat saluran air, mematikan aliran listrik di dalam rumah, mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi, menghubungi instansi terkait penanggulangan bencana, mengungsi ke daerah aman atau posko banjir. (yasmir)