MATATELINGA, Pancur Batu: Di tengah suasana tenang di Pancur Batu, sebuah peristiwa bersejarah berlangsung pada Sabtu (12/10/2024).
Pasalnya, Lapas Kelas IIA Pancur Batu, di bawah naungan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenkumham) Sumut, meresmikan Rumah Ibadah Cetiya Dharmapala dan Sarana Pembinaan Kemandirian.
BACAJUGA
https://www.matatelinga.com/Lifestyle/forkopimda-toba-gowes-sambil-sosialisasi-pilkada-damai
Acara ini tak hanya sekadar seremonial, tetapi menggambarkan harapan baru bagi para narapidana dan masyarakat sekitar. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Kegiatan Kerja Lapas, dipenuhi oleh berbagai kalangan.
Mulai Kepala (Ka) Kanwil Kemenkumham Sumut, Anak Agung Gde Krisna, hingga perwakilan Muspika Plus Pancur Batu. Semua hadir untuk menyaksikan momen bersejarah ini.
[br]
Dengan penuh khidmat, Anak Agung Gde Krisna dan Ketua DPD Dharmapala Nusantara Sumut, Jopi, menandatangani prasasti menandakan komitmen bersama untuk membangun suasana yang harmonis.
Cetiya Dharmapala yang kini diresmikan, akan menjadi ruang ibadah bagi umat Buddha dan juga dapat digunakan oleh umat Hindu. Dalam sambutannya, Anak Agung Gde Krisna menekankan pentingnya saling menghormati dan menciptakan kedamaian di tengah keberagaman agama di Indonesia.
"Kita semua adalah warga negara yang beragama. Mari ciptakan suasana damai," ajaknya sambil mengingatkan semua yang hadir akan pentingnya toleransi.
Di sisi lain, Kalapas Pancur Batu, Nimrot Sihotang mencurahkan perasaannya tentang program ini. Dia menyoroti betapa pentingnya menyediakan sarana bagi para narapidana untuk mendapatkan bekal yang berguna di masa depan.
[br]
"Program pembinaan ini adalah hasil dari kerja keras bersama. Kita ingin memastikan mereka dapat diterima kembali di masyarakat," ujar Nimrot.
Nimrot mengisahkan, sebelumnya Lapas Kelas IIA Pancur Batu tidak memiliki fasilitas seperti ini. Kini, dengan adanya Rumah Ibadah dan berbagai program pembinaan, harapan baru muncul. "Mudah-mudahan, apa yang telah diterapkan di Lapas Malang dapat kita bawa ke sini," sambungnya.
Acara tersebut diakhiri dengan pemotongan pita, simbol peresmian yang meriah, diiringi dengan harapan baru. Kakanwil dan jajaran Muspika Plus Pancur Batu juga meninjau Program Pembinaan yang telah berjalan, seperti perpustakaan dan pabrik roti.
Dalam setiap langkah, ada rasa optimisme untuk masa depan yang lebih baik bagi para narapidana dan masyarakat di sekitarnya.
Di Lapas Pancur Batu, langkah kecil ini menjadi fondasi bagi sebuah perubahan yang lebih besar, mengukir sejarah baru dalam perjalanan pembinaan narapidana, menuju kemandirian dan reintegrasi sosial yang sukses. (Reza)