MATATELINGA, Tanjungbalai: Pasangan suami istri, Efri Zuandi dan Yuli Andriani, warga Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjungbalai, merasa tertekan dan dikucilkan pasca putri mereka dan dua anak lainnya didiagnosis difteri. Mereka menuding tindakan petugas kesehatan telah memicu stigma negatif di masyarakat.
BACAJUGA
https://www.matatelinga.com/Berita-Sumut/wesly-silalahi-melalui-asisten-perekonomian--buka-mtq-ke-57-tingkat-kota-pematangsiantar"Penggunaan APD lengkap oleh petugas kesehatan menimbulkan ketakutan dan perhatian warga, sehingga kami dikucilkan dan menjadi bahan pembicaraan," ungkap Efri, mencerminkan perasaan terisolasi yang dialami keluarganya.Ironisnya, kedatangan petugas kesehatan tersebut bertepatan dengan prosesi fardu kifayah putri kedua mereka yang meninggal dunia.Efri dan Yuli juga menuding bahwa upaya mereka untuk mencari pengobatan alternatif di Malaysia sempat dihalangi oleh petugas Kesehatan Kota Tanjungbalai. Setibanya di Bandara Kuala Namu, pada 21 Januari 2025, mereka kembali menghadapi perlakuan diskriminatif dari Kementerian Kesehatan RI yang memaksa mereka menjalani karantina dengan dalih difteri. Mereka baru dibebaskan setelah menunjukkan hasil tes laboratorium negatif dari Malaysia.[br]Keesokan harinya, pada 22 Januari 2025, rumah keluarga ini kembali didatangi oleh tim gabungan dari Kemenkes RI, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, dan Dinas Kesehatan Kota Tanjungbalai. Petugas bersikeras bahwa anak-anak mereka terinfeksi difteri dan harus diisolasi, sebuah tindakan yang semakin memperdalam trauma keluarga. Akibatnya, anak-anak Efri dan Yuli mengalami trauma mendalam dan menolak untuk bersekolah."Mereka bahkan mendatangi sekolah anak kami, sehingga anak kami mengalami trauma dan enggan bersekolah," tutur Efri dengan nada getir.Hingga saat ini, Dinas Kesehatan Kota Tanjungbalai belum memberikan keterangan resmi terkait kasus ini. Namun, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatera Utara, dr. Rizky Adriansyah, M.Ked (Ped), Sp.A (K), memberikan tanggapan.Menurut dr. Rizky, proses diagnosis difteri telah dilakukan sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI. Ia menekankan bahwa tindakan isolasi pasien difteri adalah langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit."Segala tindakan yang dilakukan oleh dokter spesialis anak semata-mata adalah upaya untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut di masyarakat," jelasnya dalam pemberitaan baru baru ini.IDAI juga mengklaim telah melakukan edukasi kepada keluarga dan masyarakat terkait difteri sejak di RSUD Tengku Mansyur hingga RSU USU. Mereka berharap masyarakat tetap tenang, menghindari stigma, dan bekerja sama dalam upaya pencegahan dan penanganan difteri.(Riki)