MATATELINGA,Tanjungbalai: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungbalai mengakui telah mengusulkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri setelah ditemukan kasus suspek pada seorang anak. Namun, usulan tersebut merupakan permintaan Dinkes Provinsi Sumut."Ada kemarin diusulkan (KLB) ke provinsi karena itu permintaan provinsi, ternyata setelah diproses Kemenkes harusnya yang menetapkan itu kepala daerah," ungkap Kepala Dinkes Tanjungbalai, dr. Nurhidayah Aritonang, saat ditemui di ruang tunggu Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkot Tanjungbalai. Senin, (24/2/2025).Nurhidayah menjelaskan bahwa saat ini pihaknya sedang berkoordinasi kembali dengan Sekda terkait penetapan status KLB. "Ini mau kita bicara lagi dengan buk sekda, apakah bisa nanti bisa buk sekda mengeluarkan atau menunggu pejabat baru," ujarnya.[br]Usulan KLB tersebut katanya diajukan setelah ditemukan dua kasus positif difteri dari 17 orang yang diperiksa swab saat melayat di rumah pasien. "Waktu itu ada 28 yang takziah, 17 orang yang diperiksa, 2 ditemukan positif yakni keluarga dari pasien, (paman dan anak pamannya) adik dan kakak pasien yang meninggal dunia kita gak tau karena sudah dibawa ke Malaysia," jelas Nurhidayah.Nurhidayah mengungkapkan bahwa setelah pasien dirujuk ke Medan, Dinkes Provinsi Sumatera Utara dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerima laporan adanya suspek difteri. Mereka kemudian turun ke Tanjungbalai untuk melakukan pemeriksaan karena difteri merupakan penyakit menular.Menurut nya kedatangan petugas dengan Alat Pelindung Diri (APD) ke rumah pasien, menurut Nurhidayah, merupakan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk penyakit menular dan bukan untuk menyudutkan keluarga pasien. Dinkes juga kembali mendatangi rumah pasien setelah mereka berobat ke Malaysia untuk memastikan kondisi dua kakak beradik tersebut.[br]"Kami dapat pengakuan tidak ada hasil lab dari Malaysia.Dan saat ini kami belum mendapatkan hasil uji lab itu dari pihak keluarga," kata Nurhidayah.Sebagai mana diberitakan sebelum nya. Pasangan suami istri, Efri Zuandi dan Yuli Andriani, warga Kecamatan Sei Tualang Raso, Kota Tanjungbalai, merasa tertekan dan dikucilkan pasca putri mereka dan dua anak lainnya didiagnosis difteri. Mereka menuding tindakan petugas kesehatan telah memicu stigma negatif di masyarakat. Selain itu mereka meyakinin hasil diagnosis tersebut salah, hal itu dibuktikan hasil ujilab dari rumah sakit Malaysia."Penggunaan APD lengkap oleh petugas kesehatan menimbulkan ketakutan dan perhatian warga, sehingga kami dikucilkan dan menjadi bahan pembicaraan," ungkap Efri, mencerminkan perasaan terisolasi yang dialami keluarganya.Ironisnya, kedatangan petugas kesehatan tersebut bertepatan dengan prosesi fardu kifayah putri kedua mereka yang meninggal dunia. (Riki)