MATATELINGA - Danau Toba menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang sangat menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara. General Manager (GM) Toba Caldera UNESCO Global Geopark Azizul Kholis dalam sebuah kesempatan di Medan menyampaikan, Danau Toba juga terpilih menjadi tuan rumah Geotourism Festival and International Conference (Geofest) ke-7.
Ajang internasional ini menjadi momentum bagi Toba Caldera UNESCO Global Geopark (UGGp) untuk memperluas jaringan dan memperkuat kerja sama dengan berbagai geopark dari sejumlah negara.
Penguatan jaringan tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kunjungan wisata serta meningkatkan posisi Kaldera Toba dalam jaringan geopark dunia. Melalui kolaborasi ini, Kaldera Toba berpeluang masuk ke dalam paket perjalanan geopark kawasan Asia Pasifik.
Baca Juga: Dorong Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba, Pemkab Ssamosir Jalin kerjasama dengan BTN Saat berkunjung ke salah satu Geosite Kaldera Toba yang ada di Kabupaten Toba, tepatnya di Sibisa, kita bisa menikmati sisi lain keindahan alam Danau Toba. Kawasan tersebut dikelola sedemikian rupa dan hutan di kawasan ini masih terjaga kelestariannya.
Untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan Danau Toba, berbagai upaya dilakukan oleh lembaga, pemerintah, pribadi termasuk perusahaan yang beroperasi di daerah tangkapan air Danau Toba. Upaya yang dilakukan termasuk mempertahankan hutan yang ada dan menanami pohon di kawasan hutan yang sudah mulai gundul.
Salah seorang putra Desa Si Onggang Utara, Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara Marandus Sirait yang sangat peduli dengan pelestarian hutan memutuskan untuk kembali ke kampung halaman terutama dengan adanya seruan Gubernur Sumatera Utara saat dijabat oleh Raja Inal Siregar, "Marsipature Hutanabe" adalah seruan Gubernur Sumatera Utara mengajak para perantau untuk membenahi kampung halamannya masing-masing.
"Seruan itu sangat inspiratif, termasuk bagi saya sendiri yang saat itu masih merantau dan sudah memiliki pekerjaan tetap. Saya ikuti seruan itu, karena saya yakini merupakan peta jalan mengatasi kemiskinan dan memerangi kerusakan alam," katanya dalam sebuah kesempatan.
Baca Juga: Geofest ke-7 di Danau Toba, Sumut Perluas Kerja Sama Internasional Antar-Geopark Keseharian Marandus Sirait pasca kepulangannya ke kampung halaman adalah merawat bumi dan melestarikan tanaman langka yang sudah mulai punah. Di halaman rumahnya tertata rapi bibit tanaman langka yang siap ditanam di kawasan hutan Danau Toba.
Bibit pohon yang ia tanam dalam pot siap ditanam di sepanjang tepi sungai yang membelah kawasan Desa Si Onggang Utara, Lumban Julu, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Air Sungai Lumban Rang yang jernih dan suara gemericik air tumpahan air terjun di hulu sungai tepatnya di kawasan Taman Eden 100.
Aksi nyata Marandus telah menyelamatkan lingkungan di Lumban Julu, yang termasuk daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba. Pada awal ia mulai menanam pohon, ia dianggap gila, karena mencoba menanam pohon di kawasan yang palawija pun susah tumbuh.
Kini, di Taman Eden 100 kita menemukan tanaman-tanaman langka yang mulai punah. Seperti Sampinur Bunga, Sampinur Tali, Jior, Pokki, Anturmangan (Cemara Toba), Ingul, Analiman, Takki dan kayu alam lainnya mulai berkembang secara alami. Ada pula tumbuhan bunga, antara lain Tahu-tahul (Nephenthes), Bunga Batak (Macodes Petola), Soripada (Malakis SP) dan berbagai jenis anggrek langka.
Baca Juga: BTN Perkuat Sinergi dengan Pemkab Samosir, Dorong Pengembangan Pariwisata, UMKM, dan Layanan Publik Karena kawasan Taman Eden 100 sudah penuh, bersama teman-teman sevisi, Marandus juga menyasar lingkungan sekolah, gereja, masjid, dan jalan-jalan untuk ditanami. Aksi sejak 2015 ini kini sudah terlihat manfaatnya. Apalagi, masyarakat sekitar juga ikut terdorong mencintai lingkungan dengan rajin merawat dan menanam pohon.
Dan, Taman Eden 100 pun tak lupa menawarkan kepada siapa saja untuk berinvestasi di Bank Pohon. Sejak 29 Desember 2007, Bank Pohon didirikan di Taman Eden 100 untuk menyuplai bibit-bibit ke kawasan Danau Toba dalam rangka penghijauan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
Menjaga Kelestarian Ekosistem
Apa yang dilakukan Marandus Sirait adalah salah satu upaya untuk melestarikan hutan di kawasan wisata Danau Toba. Bentuk kepedulian Marandus pun sudah dilakukan beberapa perusahaan, terutama yang beroperasi dan bersinggungan dengan kawasan Danau Toba. Salah satunya adalah PT INALUM yang terus berkomitmen menjaga kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba.
Baca Juga: Trail of The Kings UTMB 2026 Berakhir Sukses, Sumut Tegaskan Diri sebagai Destinasi Sport Tourism Dunia Bersama Perum Jasa Tirta (PJT) I, INALUM menjalankan program seperti penanaman pohon di lahan seluas 1.050 hektare, pembuatan biopori, dan pembangunan sumur injeksi guna mencegah erosi dan menjaga ketersediaan air.
Sebagai perusahaan yang bergerak di industri ekstraktif dan pengolahan aluminium, PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menjalankan pengelolaan lingkungan berdasarkan berbagai regulasi pemerintah, di antaranya Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Nomor 1375 Tahun 2025 tentang PROPER.
Sepanjang 2025, INALUM dan mitra telah merealisasikan berbagai kegiatan strategis konservasi yang tersebar di Kabupaten Toba, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Simalungun, Samosir, Dairi, dan Karo. Upaya tersebut dirancang untuk memberikan dampak nyata terhadap keberlanjutan ekosistem Danau Toba sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.
Untuk mendukung keberlanjutan rehabilitasi lahan, INALUM turut membangun Kebun 3 unit Bibit Rakyat (KBR) berkapasitas 50.000 bibit per tahun, dan Pembibitan Modern Paritohan berkapasitas 500.000 bibit per tahun. Fasilitas ini diharapkan menjadi tulang punggung penyediaan bibit bagi program penghijauan jangka panjang di kawasan Danau Toba.
Baca Juga: Pelari Mancanegara Terpukau Keindahan Danau Toba di Trail of The Kings UTMB 2026 Manfaat Jangka Panjang Bagi Generasi Mendatang
Bagi INALUM, alam bukan hanya bagian dari lingkungan operasional, tetapi juga aset bersama yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Melalui pelaksanaan program konservasi secara sukarela, INALUM menunjukkan bahwa keberlanjutan perusahaan tidak hanya diukur dari kinerja bisnis, tetapi juga dari kontribusinya dalam menciptakan nilai tambah bagi lingkungan.
Direktur Strategic Support & Human Capital INALUM, Benny Wiwoho meyampaikan bahwa konservasi merupakan bagian penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan.
"Melalui berbagai program pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang," katanya.
Baca Juga: Bobby Nasution Lepas Pelari Dunia Trail of The Kings UTMB, Danau Toba Kian Mendunia Lewat Sport Tourism Program konservasi INALUM menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan INALUM dalam menjaga kelestarian ekosistem Danau Toba sebagai sumber kehidupan, ruang budaya, dan penggerak ekonomi masyarakat sekitar.
Melalui pendekatan konservasi yang kolaboratif, terukur, dan berkelanjutan, INALUM memastikan upaya pelestarian tidak berhenti pada kegiatan simbolis, tetapi memberikan dampak nyata dan berkelanjutan dalam mendukung keberlanjutan Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Sumatera Utara dan Indonesia.
Ka-Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel Hutahuruk menegaskan bahwa melalui berbagai program konservasi yang dijalankan secara berkelanjutan, INALUM berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan.
"Upaya ini merupakan wujud tanggungjawab kami untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan," tegasnya.
Baca Juga: Mantan Kepala Departemen Sales and Marketing Inalum Didakwa Rugikan Negara Rp141 Miliar Konservasi menjadi bagian integral dari strategi keberlanjutan perusahaan sebagai wujud tanggung jawab ekologis yang melampaui kepatuhan terhadap regulasi.
Dengan demikian, INALUM berupaya membangun harmoni antara pertumbuha industri, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian alam sebagai fondasi keberlanjutan jangka panjang.
Baca Juga: Pembukaan Sinode ke-65 HKI di Medan, Dihadiri Gubernur Sumut