MATATELINGA - Pesisir pantai Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Batu Bara di Provinsi Sumatera Utara secara geografis dan historis dikenal sebagai wilayah Pesisir Timur Sumatera (atau kawasan Pantai Timur). Kawasan ini berbatasan langsung dengan perairan Selat Malaka yang strategis.
Hutan bakau di kawasan ini perlu direvitalisasi dan dikonsernasi untuk menciptakan kawasan hijau dan memberi rumah baru bagi beragam biota laut. Hutan bakau (mangrove) adalah ekosistem pesisir penting yang berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi, penyerap karbon yang sangat efektif, serta habitat bagi berbagai biota laut.
Baca Juga: BNI Dorong UMKM Tidak Hanya Naik Kelas dan Melek Digital, Tapi Bisa Berdampak Bagi Banyak Orang Hutan bakau memiliki manfaat yang sangat luar biasa, mulai dari menjaga keseimbangan lingkungan dan menopang ekonomi masyarakat pesisir. Akar dan batang bakau memecah gelombang laut yang kuat, sehingga efektif mencegah erosi (abrasi) dan melindungi daratan dari badai atau tsunami.
Hutan bakau juga dapat menyerap dan menyimpan karbon dioksida dari atmosfer hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan, membantu mencegah pemanasan global.
Dengan tetap melestarikan dan menanam bakau baru di sepanjang pantai, akarnya menjadi tempat berlindung, memijah (bertelur), dan mencari makan yang aman bagi ikan kecil, udang, kepiting, serta berbagai spesies burung.
Baca Juga: Menjaga Keseimbangan Lingkungan dalam Praktek Perkebunan Kelapa Sawit Melalui Identifikasi Nilai Konservasi dan Stok Karbon Tinggi Manfaat lain hutan bakau adalah berperan ganda dalam menjernihkan air laut dengan menyerap polutan berbahaya seperti limbah organik, minyak, dan detergen. Kemudian, menahan air asin agar tidak merembes ke dalam tanah dan mencemari sumber air tawar milik warga di sekitar garis pantai.
Yang tak kalah pentingnya adalah, hutan bajau menjadi pusat ekowisata dan sumber penghidupan utama bagi nelayan serta masyarakat pesisir yang bergantung pada hasil tangkapan laut.
Baca Juga: Berkat Konsistensi dan Inovasi yang Melampaui Ekspektasi, Asuransi Astra Raih Dua Penghargaan Sekaligus Alih Fungsi LahanMasyarakat yang tinggal di kawasan pantai biasanya banyak bekerja sebagai nelayan. Mereka mencari ikan dan berbagai sumber daya untuk menopang ekonomi keluarga. Manfaat kawasan hutan mangrove menjadi tempat yang paling sesuai untuk pembibitan ikan, udang dan berbagai potensi habitat laut lainnya.
Kawasan hutan mangrove telah membantu menjaga ketersediaan sumber daya ikan di laut yang tidak akan habis. Sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan oleh nelayan sebagai sumber mata pencahariannya.
Baca Juga: DPRD Medan Tinjau Pinimbunan Hutan Mangrove, Hadi Suhendra Minta Pengusaha Nakal Ditindak Tegas Setelah mengetahui manfaat penting hutan bakau, sekarang saatnya kita melestarikan kawasan hutan bakau. Karena, secara ekonomi, ekosistem mangrove dapat dimanfaatkan untuk destinasi wisata, perikanan tangkap dan budidaya, serta sarana pendidikan dan pembelajaran.
Namun, alih fungsi lahan dan pemanfaatan yang berlebihan telah mengakibatkan ekosistem mangrove mengalami kerusakan yang memprihatinkan. Hal tersebut disebabkan oleh semakin tingginya tingkat eksploitasi, lemahnya penegakan hukum, dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap fungsi ekosistem mangrove.
Kerusakan tersebut telah memberikan dampak merugikan bagi lingkungan maupun masyarakat, antara lain ditunjukkan dengan semakin menurunnya tangkapan ikan, terganggunya kegiatan budidaya, kesulitan air tawar karena intrusi air laut, meningkatnya erosi pantai, terjadinya kerusakan kawasan permukiman oleh angin, badai, dan lain sebagainya.
Baca Juga: Pemerintah Menargetkan Rehabilitasi 600 Ribu Hektare Mangrove Salah satu perusahaan yang bersentuhan langsung dengan pesisir pantai adalah INALUM (PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) menjadikan wilayah pesisir Pantai Batubara sebagai pusat konservasi lingkungan melalui program rehabilitasi mangrove.
Dengan panjang garis pantai mencapai 55,9 km, perusahaan ini menggandeng masyarakat Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM) Batu Bara untuk menanam puluhan ribu bibit bakau. Inisiatif ini tidak hanya menjaga ekosistem dari abrasi, tetapi juga dikembangkan menjadi kawasan ekowisata dan pusat pemberdayaan UMKM lokal
Baca Juga: Kurangi Emisi, Astra Group dan Kalla Toyota Tanam 20.000 Bibit Mangrove di KBA Rammang-Rammang-Maros Sebagai bagian dari komitmen terhadap konservasi keanekaragaman hayati, INALUM melakukan pemetaan spesies yang masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan daftar konservasi nasional di sekitar wilayah operasional untuk mengidentifikasi spesies terancam serta menentukan langkah perlindungan yang tepat.
Perusahaan juga menjalankan program perlindungan dan rehabilitasi spesies di kawasan pesisir Pantai Sejarah dan Pantai Perjuangan, Kabupaten Batu Bara, guna mendukung pelestarian spesies terancam sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Konservasi Maritim Baca Juga: USM-Indonesia Raih Prestasi di Tiga Program Magang Berdampak Nasional Kenapa harus mangrove? Pertanyaan ini mengemuka pada saat kepedulian terhadap kerusakan hutan mangrove semakin menggema. Karena, hutan mangrove adalah benteng utama masyarakat di pesisir, yang merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir, masyarakat pesisir sangat identik dengan mangrove, jadi ini adalah benteng alami terutama terkait dengan perubahan iklim, abrasi, kenaikan permukaan air laut.
INALUM menjalankan program konservasi maritim melalui penanaman mangrove untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Melalui program unggulan Pohon Asuh, perusahaan mendorong keberlanjutan pertumbuhan mangrove sekaligus memperluas partisipasi berbagai pemangku kepentingan melalui skema adopsi mangrove.
Pada 2025, INALUM bersama masyarakat pesisir Kabupaten Batu Bara menanam 15.000 bibit mangrove, sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi lingkungan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Pelindo Regional 1 Tanam Mangrove Di Pesisir Kabupaten Batu Bara Selama 4 tahun program berjalan, INALUM telah memberikan solusi atas 3 masalah krusial di Kawasan Pantai Sejarah yaitu Prostitusi, Abrasi, dan Pertumbuhan Ekonomi. Program ini secara penuh mendorong masyarakat untuk menghilangkan prostitusi dari kawasan tersebut dan menjadikannya kawasan ramah keluarga.
Selanjutnya program ini juga berhasil memberikan perlindungan dari abrasi laut dengan penanaman mangrovenya. Terakhir INALUM berhasil melakukan peningkatan ekonomi masyarakat pascapandemi Covid-19 dengan program-program inovasinya di kawasan tersebut.
Baca Juga: Beruang Madu Lima Hari Terkena Jeratan, BKSDA Bertindak Direktur Strategic Support & Human Capital INALUM, Benny Wiwoho menyampaikan bahwa konservasi merupakan bagian penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan.
"Melalui berbagai program pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang," tandasnya.
Sementara Ka-Grup Layanan Strategis INALUM, Daniel Hutahuruk menyampaikan, melalui berbagai program konservasi yang dijalankan secara berkelanjutan, INALUM berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Baca Juga: PT PLN (Persero) Bersama HNSI Dan Relawan Wak Young Tanam Pohon Mangrove "Upaya ini merupakan wujud tanggungjawab kami untuk menciptakannilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan." katanya.
Dalam sebuah kesempatan, Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian menekankan pentingnya pelestarian hutan mangrove di Kabupaten Batu Bara. Hutan mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer, bahkan lebih efektif daripada hutan daratan. Proses ini terjadi melalui fotosintesis, dimana tumbuhan mangrove mengubah karbon anorganik (CO2) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi.
Dengan luas hutan mangrove 576 ha dan jumlah pohon mangrove dalam satu hektar diperkirakan 2.500 per hektar dan daya serap sekitar 6.048 ton karbon dioksida per hektar. Sehingga dapat dikalkulasikan potensi saat ini hutan mangrove di Kabupaten Batu Bara dapat menyerap karbon dioksida sebanyak 3.483.648 ton.
Baca Juga: Bakamla RI Tanam 39.000 Bibit Mangrove di Batam Hutan mangrove di kawasan Pantai Sejarah Kabupaten Batubara, menurut Baharuddin tidak kalah baiknya dengan hutan mangrove di tempat lainnya. Karena, potensinya yang besar dan setiap beberapa periode musim (periode Oktober-Mei) burung-burung dari luar negeri yang sebagian besar dari Benua Australia yang melakukan imigrasi ke kawasan hutan mangrove di kawasan Pantai Sejarah.
Konservasi hutan mangrove di kawasan pantai Kabupaten Batubara, selain bermanfaat untuk menahan abrasi, hutan mangrove juga menjadi rumah yang sangat nyaman bagi biota laut termasuk burung migran serta fauna lainnya. Tidak hanya bermanfaat, upaya pelestarian hutan mangrove juga berdampak sangat positif bagi masyarakat pesisir yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan.
Baca Juga: PLN dan Srikandi PLN Gelar Aksi Tanam 100 Bibit Mangrove di Muara Opu, Tapsel Hutan mangrove sebagai rumah baru bagi biota laut menjadi tempat yang sangat tepat bagi nelayan dalam mendapatkan tangkapan ikan, kepiting, udang serta hewan laut lainnya. Program konservasi yang dijalankan INALUM tidak hanya bermanfaat tapi juga berdampak.
Dengan komitmen yang dijalankan INALUM terhadap praktik bisnis berkelanjutan dan kepedulian terhadap pelestarian hutan dan hutan mangrove, telah mengantar INALUM meraih peringkat PROPER Emas untuk operasional Pabrik Peleburan (ISP) serta PROPER Hijau untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA/IPP) dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) tahun 2025.
Baca Juga: Aktivis Lingkungan : Sugianto Makmur Adalah Salah Seorang Kandidat Penerima Kalpataru Konservasi Mandiri Hutan Bakau Kun Kun Baca Juga: Pulihkan Hutan Mangrove, Pemprov Sumut Tanam 10 Ribu Bibit Mangrove