Matatelinga.com, Mencuatnya penolakan 37 sekolah bertaraf asing dan internasional, yang enggan menerima BantuanOperasional Sekolah tahun anggaran 2015. Dari pernyataan Manajer BOS Kota Medan Abdul Johan dan Manajer BOS PropsuErni Mulatsih lewat media masa pertengahan Februari 2015 lalu.
Membuka aib karut marutnya pendataan siswapeserta didik, oleh aparatur birokrasi yang menyelenggarakan dan melayani duniapendidikan. Kacaunya pendataan yang berakibat melambungnya jumlah siswa, dan otomatis menaikkanrealisasi angaran bagi penerima bantuan serta rawan menimbulkan kerugiankeuangan negara tersebut, semula dibantah sejumlah pejabat didaerah ini.
Sebagaimana ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Marasutan Siregarlewat Ketua Tim Manajemen BOS KotaMedan/Kabid Program dan Bantuan, Abdul Johan, jika sekolah yang menolakmenerima dana BOS. Maka Tim Manajemen BOS tidak mengajukan atau mengusulkananggarannya ke Kemendikdasmen RI dan Kemenkeu sebagai penerima dana bantuanoperasional dimaksud guna menghindari pengalokasian dana tumpang tindih.
"Sekolah menolak menerima dana BOS, maka anggarannya tidak diajukanatau diusulkan dan bagi sekolah penerima dana BOS harus secara transparanmenyalurkan untuk biaya operasional sekolah sesuai peruntukannya agar tidakmenjadi masalah di tengah-tengah masyarakat", ujar Abdul Johan kepadamedia cetak terbitan Medan.
Bahkan layaknya ingin mengulang keyakinannya tentang tidak adanya kerugiannegara dalam penyaluran bantuan itu, Marasutan Siregar dalam pesan singkatselulernya kepada wartawan menyatakan”, Semua dana BOS dicairkan ke rekeningsekolah. Disdik Medan hanya pendataan”.
Sayang pernyataan Marasutan itu bertolak belakang dengan kenyataan. Sebab faktanya masih saja sekolah yangmenolak menerima BOS, namun nama lembaga pendidikannya diterakan sebagaisalahsatu penerima bantuan, lengkap jumlah nominal angka bantuan. Sebagaimanapublikasi data Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Priode I tahun 2015. Dan ternyata angka tadi bukanlah kesalahandalam pencatatan dan penulisan, sebab, pada tahun anggaran 2014 sekolahinternasional itu juga diterakan sebagai lembaga penerima bantuan.
Salah satu sekolah yang namanyaditerakan seolah menerima bantuan BOS adalah SLH, berada di kawasan MandalaMedan. Sekolah bertaraf internasional, yang disebut ikut didanai salahsatu tokoh paling berpengaruh dinegeri ini, yakni James Riady.
Eksistensi sekolah internasional yang mengenakan biaya uang SPP bagi siswakelas I sekolah dasarnya diatas Rp. 200 ribu ini, didapat saat wartawan coba menemui Kepala Sekolah, Ribka. Dan wartawan hanyadapat menemui petugas administrasi yang menangani pendaftaran siswa baru.
Staff bernama Rataken mengakui, sekolah memang tidak ada menerima bantuan pendanaan apapun daripemerintah termasuk BOS. Sebab sekolahsudah punya donatur tetap yangbertanggungjawab menjaga kelangsungan keuangan sekolah. Dari brosur sekolah inidiketahui, besarnya SPP tadi, rupanya disubsidikan silang kepada siswa lain yan berasal dari keluarga tidakmampu, berdasarkan keterangan dari pejabat pemerintah setempat sepertiperangkat desa dan kelurahan.
“Kita tidak ada menerima BOS bang, ribet urusannya”, ujar Rataken. Tanpamerinci, apakah yang dimaksudnya dengan kalimat ribet tersebut adalah birokrasiyang bertele-tele yang menyebabkan BOS sangat mudah untuk diserimpungkan,(21/4).
Kondisi lain tentang rawannya aliranBOS dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi, dapat ditelusuri dari data rekappengeluaran Sekolah Dasar Negeri 064981 di kawasan Helvetia-Tengah Medan. Masihdari catatan rekap realisasi pengeluaran tahun 2014 Kementrian Pendidikan danKebudayaan di Jakarta, sekolah dasaryang menerima bantuan lebih dari 250 juta di tahun 2014 itu, menerakan lebihdari Rp. 115 juta bagi pembelian bukuteks tematik. Dan dicatat sebagi inventaris perpustakaan sekolah.
Padahal sebelumnya, sekitar penghujung 2014 itu, sang Kepala SekolahDominer, nyaris dikerubungi ibu-ibu orangtua murid, yang merasa kesal karenaharus memfoto copi sendiri buku-buku teks anaknya, karena keterbatasan bukuteks. Dan untuk meredakan amarah orangtua murid, Dominer terpaksa menggantiuang foto copi buku masing-masing orangtua murid sebesar Rp. 100 ribu, dengandibantu stafnya Sagala guna meredaka amarah orangtua siswa. Pengeluaran lainyang juga tidak dapat diyakini kebenaranya, yakni pengeluaran Dominer dari BOS2014 untuk menggaji guru honorer selamasetahun dengan besaran Rp. 51 juta lebih, meski guru honor yang ada jumlahnya hanya 4 orang saja.
Tentang ditemukannya Rekening Bodong BOS Medan, pada sekolah-sekolahinternasional diatas Marasutan menjawab dari selulernya dengan pesan ,“ Yang mentransferbiaya (BOS, red) siapa, tolong dicek dengan benar. Pernyataan Marasutan tadi tampaknya sepertiingin menghantam pernyataan KadisdikPropsu-Masri lewat Manajer BOS ErniSulatsih, yang mengatakan, “"DanaBOS triwulan I telah ditransfer dari Kas Umum Negara (KUN) ke rekening Kas UmumDaerah Kabupaten/Kota. Dan selanjutnya disalurkan ke Bank Sumut setempat gunaditransfer ke rekening masing-masing sekolah penerima,"
Jika dalam pendataan terhadap siswa SMA tahun 2010 penerima BantuanOperasional Manajemen Mutu, Marasutan menerakan angka 1. 745 siswa bagi sekolahSutini beralamat kawasan Jl. Setia Budi Medan Tembung, meski saat ini sekolahsudah tidak lagi mempunyai siswa SMA, dan beliau menjawab pertanyaan wartawan,akhir Maret 2015 lalu dengan kalimat, “Itu khan sudah lama”.
Maka dalam kasus SLH ini, kesannya Marasutan ingin mengalihkantanggungjawab kepada Manajer BOS Kota Medan Abdul Johan, serta Syahrial yangmenjabat Kabid SD ditahun 2014, dan penggantinya ditahun 2015 Masrul Badri,lewat pernyataan, siapa yang menyalurkanbantuan.
Erni Sulatsih yang coba dikonfirmasi di di Dinas Pendidikan PropinsiSumatra Utara, (22/4), sedang tidak berada dikantornya, karena sedang dinas keJakarta. Beberapa pegawai yang berhubungan dengan data siswa, seperti engganmemberikan nomor seluler Erni, saat disebutkan adanya transaksi penyaluran atasnama puluhan sekolah, sementara sekolah tadi menolak menggunakan BOS dalampendanaan sekolahnya.
(Mt/alfiannur syafitri)