Matatelinga.com, Soroton tajam terkait buruknya kinerjaKepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Medan Drs Marasutan terus bergulir.Bahkan, gonjang- ganjing usulan pencopotan Marasutan dari jabatan Kadisdiksemakin deras. Seperti Wakil Ketua DPRD Medan Ihwan Ritonga, SE menilaiperilaku Marasutan yang kerap sepele kepada lembaga DPRD Medan pantas untukdicopot. Menurut Ihwan Ritonga yang jugakordinator komisi B DPRD Medan membidangi pendidikan ini kepada wartawan, Jumat(4/9/2015) mengatakan, mencuatnya masalah penerimaan siswa baru hingga tertuduhnyaada siswa ‘siluman’ bukti buruknya kinerja Marasutan. “Marasutan itu kerap menyepelekanlembaga DPRD Medan dan tidak menghargai anggota dewan selaku mitra. Sama halnyakebijakan masalah penerimaan siswa baru, DPRD tidak dilibatkan sehingga terjadimiss komunikasi. Dihubungi saja susah dan selalu menghindar dari anggota dewan.Sebaiknya sesama mitra kerja harus ada kerjasama. Begitu juga masalah dayatampung siswa baru yang diterima seharusnya Marasutan supaya transparan sehinggatidak timbul masalah seperti ini dan sesuatunya dapat dikordinasikan,” ujar Ihwan. Menurut Ihwan, pihaknya sangatmenyayangkan perilaku Marasutan yang tidak kooperatif dan tidak komunikatif. “Kitakuatir mutu pendidikan di Kota Medan semakin terpuruk jika kepemimpinanMarasutan dipertahankan. Masalah ini harus disikapi serius karena menyangkutpendidikan moral anak bangsa,” tegas politisi Partai Gerindra ini. KembalikanNama Baik Siswa Tertuduh Siswa SilumanTerkait maraknya tududan istilah siswa‘siluman’ sudah meresahkan murid dan orang tua murid. Untuk itu. Ihwan mendesakKepala Dinas dan Kepala sekolah harus memulihkan nama baik siswa. “Kita tidaksetuju siswa jadi korban tertuduh siswa ‘siluman’ akibat ulah Marasutan. Inisangat menggangu fisikologis anak. Siswa tak bersalah dan harus dikembalikannama baiknya,” tegas Ihwan. Kepada Kepala Dinas dan Kepala sekolah,Ihwan berharap seluruh siswa harus diberlakukan dengan adil dan jangan sampaiada yang dirugikan. Seperti penggunaan fasilitas ruangan, meja, kursi sertamobiler lainnya harus disamakan. “Jangan sampai ada pengkotak kotakan disekolah,” cetus Ihwan. (Mt/rel)