Matatelinga.com, Peringatan Hari DownSyndrome atau Sindroma Down sedunia, yang jatuh pada 21 Maret ini, untuk Sumatera Utara diperingati diSekretariat Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome(POTADS) Jl. TempuaNo. 38 Sei Sikambing B-Medan, Minggu (20/3/2016).
Para orang tua dananak-anak penyandang Sindroma Down yang datang dari berbagai kota sepertiRantau Prapat, P. Siantar, Binjai dan Medan, menggelar berbagai acara untukmempertunjukkan kebolehan guna menggalikemandirian dan kreatifitas serta menumbuhkan rasa percaya diri putra-putrimereka yakni: Lomba Bayi Sehat, serta Fashion Show. Anak-anak jugamempertunjukkan kebolehannya, tampil didepan pengunjung seperti membacakanpuisi, serta menyanyi.
Ketua POTADS MastuanaSari dalam kesempatan tersebut mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihakyang telah ikut peran serta, hingga terselenggaranya acara. Mastuana berharap,silaturrahmi diantara sesama orangtua yang telah terjalin dapat terusberlanjut, hingga dapat terus saling tukar informasi dan berbagi pengalaman tentang pertumbuhan dan perkembangananak-anak mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
Disebutkan Mastuana,pekerjaan tidak ringan sebagai orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhankhusus, harus membuat mereka kuat dan tabah. Jangan sampai membuat minder,apalagi sampai membiarkan anak-anak tumbuh dan berkembang sendiri, tanpabimbingan orangtua, masyarakat dan lingkungannya.
“Kita juga ucapkanterima kasih kepada dr. Siska Mayasari Lubis, yang tanpa lelah terus meluangkanwaktu, tenaga da pikirannya kepada kita para orangtua yang memiliki anak dengankebutuhan khusus”, ujar Mastuana Sari.
Terlihat hadir dalamacara, Eli Sembiring perwakilan RS. Murni Teguh, Ibu Jenny dari VIVO Musik,Pramita Lab, dan para pihak yang konsen terhadap anak dengan kebutuhan khusus.
Jangan Minder danBukan Menular
dr. Siska MayasariLubis kepada wartawan mengatakan, Down Syndrome atau Sindroma Down merupakanbentuk kelainan kromosom yang berdampak pada keterlambatan pertumbuhan fisikdan psikis anak.
“Kromosom manusianormal berjumlah 46 yang terdiri atas 23 pasang, dan setiap pasangnya merupakankromosom yang berasal dari ayah dan ibu. Tapi pada orang dengan Sindroma Down,kromosom berjumlah 47, dan pada pasangan kromosom nomor 21 tidak terpasanglegkap (berpasangan), melainkan ada 3 buah. Akibatnya kondisi itu membuat orangdengan Sindroma Down secara fisik memiliki ciri khas tersendiri”, ujar dr.Siska.
Dr. Siska mengatakan,hal terberat yang dihadapi orang yang menyandang Sindroma Down, adalahpenolakan dari keluarga sendiri, seperti orangtua atau saudara kandung. Padahalsebutnya, orangtua dan saudara kandung menjadi penentu penting bagiperkembangan dan pertumbuhan juga perjalanan masa depan anak-anak penyandangSindroma Down.
“Jangan orangtua larutdalam kesedihan, hingga akhirnya anak jadi terlantar. Tapi dukunglah mereka,berikan kesempatan mereka untuk mandiri, berkreasi, bersosialisasi. Sekalisetahun melakukan pemeriksaan rutin, karena pasti ada dampak karena perbedaankromosom tadi”, ujar dr. Siska.
dr. Siska jugamengatakan Sindroma Down bukanlan penyakit menular, kutukan apalagi ilmu hitam,seperti anggapan yang mungkin berkembang ditengah masyarakat dimasa lalu,sehingga harus ditakuti dan dijauhi. Sindroma Down memang murni kelainan padasel kromosom pembentuk tubuh, dan kondisi itu dapat terjadi kepada siapa sajatanpa terkecuali.
“Karennya kitaharapkan dukungan dari orangtua, saudara, tetangga, masyakat dilingkungan sertasekolah. Karena hal tersebut akan mempercepat kemandirian dan kreatifitas anakdengan kebutuhan khusus. Mereka juga manusia biasa, yang seharusnya jugamendapatkan perlakuan dan kesempatan yang sama. Mari sama-sama kita tumbuhkankemandirian dan rasa percaya diri mereka”, tukas dr. Siska Mayasari Lubis.
Down Syndrome
Down Syndrome atauSindroma Down yakni kelainan kromosom yang membuat anak secara fisik dan mentalberbeda dengan anak-anak seusianya, pertama kali ditemukan oleh dr. JohnLangdon Down. Secara fisik anak dengan kebutuhan khusus penyandang SindromaDown sangat mudah dikenali. Dimana mereka memiliki wajah khas yang mirip dannyaris sama diseluruh dunia. Bentuk kepala agak peyang, hidung pesek denganmata membesar. Kelainan kromosom bukan didasari atas faktor keturunan ataupunfaktor tertentu seperti usia dan kesehatan orangtua. Namun proses alami, danilmu kedokteran belum dapat menemukan penyebab terjadinya kelainan kromosomtadi.
Untuk menghormati jasadr. John Langdon Down itu, WHO menetapkan tanggal 21 Maret sebagai “World DownSyndrome Day” (Hari Sindroma Down Sedunia atau HSDD). Pemilihan 21 Maretsebagai pencerminan kelainan kromosom nomor 21 yang berjumlah 3 buah.
Tujuan penyelenggaran HSDD, adalah sosialisasi Sindroma Down agar anakpenyandang Sindroma Down dapat diterima dengan baik oleh lingkungannya, hinggamereka dapat bersosialisasi, berkreasi dan berekreasi serta berprestasi sesuaibidang yang mampu mereka capai. Untukinformasi lebih lanjut tentang komunitas anak-anak penyandang Sindroma Down,silahkan mengunjungi Sekretariat POTADS Sumut Jl. Tempua No. 38 Sei SikambingB-Medan atau Mastuana Sari: 081396002468, Vika: 0819881912, Heni: 08192080584.(Mtc/Rel)