Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Waspadai Inflasi Tinggi, TPID se Sumut Bahas Instrumen Kendalikan Harga

Waspadai Inflasi Tinggi, TPID se Sumut Bahas Instrumen Kendalikan Harga

Admin - Jumat, 22 April 2016 16:59 WIB
Matatelinga.com
Matatelinga.com,   Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara meminta TimPengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten/kota se Sumatera Utara untuk segeramelakukan langkah-langkah antisipasi untuk mengendalikan harga di wilayahmasing-masing.

Dia menginstruksikan TPID kabupaten/kota bisa menerapkan langkah-langkahantsipasi diantaranya menjamin ketersediaan barang dan jasa kebutuhan masyarakat,memastikan pasokan melalui monitoring ke sentra produksi dan intervensi pasar.  

Hal itu diungkapkan dalam sambutan yang disampaikan olehSekda Provsu  H Hasban Ritonga pada saatmembuka Rapat Koordinasi TPID Kabupaten/kota se Provinsi Sumatera Utara di HotelNiagara Parapat pada Jumat (22/4/2016).

Hadir dalam acara yang difasilitasi Bank Indonesia itu PimpinanBank Indonesia Sumatera Utara Medan Difi A Johansyah, Kepala Bidang MoneterKemenko Perekonomian Puji Gunawan, Kepala Divre Bulog se Sumut Fatah Yasin,pimpinan Kantor Perwakilan BI Medan, Sibolga dan Kota Pematang SIantar dan TPIDkabupaten/kota se Sumatera Utara.

Rakor TPID digelar dalam upaya menghadapi potensi ancamaninflasi seperti yang terjadi pada bulan Maret 2016 yang lalu yakni secarabulanan (month to month) sebesar 0,84%, sementara inflasi nasional sebesar 0,19persen. Dijelaskan, peningkatan tekanan inflasi terjadi di seluruh kota sampelperhitungan indeks harga konsumen (IHK) di Sumut yaitu Kota Medan inflasisebesar 0,88%, Pematangsiantar 0,66%, Padang Sidempuan inflasi sebesar 0,54%dan Kota Sibolga 0,75%.

“Jika dilihat inflasi secara triwulan, Inflasi Sumut padatriwulan I tercatat sebesar 2,00 %, sementara inflasi nasional 0,62 % sehinggainflasi Sumut pada triwulan I diaatas inflasi nasional 1,38%,” kata Plt Gubsu. Bahkanmenurut Kepala BI Difi Djohansyah, Sumut menduduki posisi tertinggi angkainflasi dari seluruh provinsi di Indonesia.

Faktor penyebab tinginya inflasi pada bulan Maret 2016 iniadalah naiknya harga komodistas seperti harga cabe merah naik 39,11%, hargabawang merah naik 29,18%, harga mobil naik sebesar 5,44%, harga rokok putihnaik 9,47% dan lain-lain.

 “Perlu melakukankunjungan ke sentra produksi pertanian, peternakan, gudang-gudang distributordan pasar-pasar untuk menjamin ketersediaan barang dan jasa kebutuhanmasyarakat,” imbuh Plt Gubsu. Dikatakannya,  mengingat tingginya angka inflasi Sumut padatriwulan pertama tahun 2016 ini, maka perlu  diantisipasi terjadinya inflasi akibatkenaikan harga kebutuhan menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. “Sayamengharapkan tim pengendalian inflasi daerar kabupaten/kota melakuan melakukan rapatTPID dengan mengundang para distributor, instansi terkait di wilayahasing-masing,” ujarnya. 

Selain itu perlu menjamin ketersediaan informasi hargapangan bagi semua pelaku ekonomi, baik produsen (petani), pedagang dan konsumendan melaporkan perkembangan harga di daerah melalui PIHPS “Siharapanku”.

Sementara itu, Difi menambahkan tekanan inflasi volatilefoods pada Bulan Maret 2016 yang lalu mengalami kenaikan harga yang cukupsignifikan untuk komoditi cabe merah dan bawang merah. Hal ini tidak sejalandengan keadaan Sumatera Utara yang merupakan sentra komoditi cabe merah sepertikabupaten Batubara, Karo, Simalungun dan lain-lain. Padahal Sumut tercatatsebagai produsen cabe merah nasional terbesar ke dua dengan kontribusi memenuhi18% kebutuhan cabe nasional.

Adapun penyebab tingginya harga komoditi cabe merah di Sumutpada bulan Maret 2016 adalah menurunnya pasokan cabe di pasar-pasar di Sumutsehingga mengakibatkan terjadinya kenaikan harga, sementara itu cabe merah darisentra produksi kabupaten Batubara dipasarkan di luar Provinsi Sumut, sepertiPekanbaru, Batam, Padang dan  lain-lain.

“Untuk itu perlu dicarikan solusi, menentukan instrument yangtepat secara bersama untuk menjaga inflasi menghadapi Bulan Ramadhan dan HariRaya Idul Fitri,” ujarnya.

Difi mengatakan bIla Sumut tidak mewaspadai gejala ini, dikhawatirkanbila tidak dilakukan langkah-langkah antispasi maka sasaran angka inflasi Sumutsebesar 4±1% tidak akan tercapai. Berdasarkan pengamatan BI, menurutnya ada perubahan polapergerakan inflasi yang tidak terjadi pada tahun-tahun  sebelumnya. “Awal Januari hingga April adalah periodepanen raya beras dan cabe merah, sehingga umumnya di Sumut pada periode itujusteru terjadi deflasi. Namun pola yang terjadi selama tiga tahun sebelumnya itutidak terjadi lagi, malah tahun ini Sumut alami inflasi,” ujarnya. Dengan demikianBonus deflasi tidak terjadi, sehingga dikhawatirka secara akuimulasi angkainflasi Sumut pada akhir tahun 2016 nanti tinggi dan sasaran tidak tercapai.

Berbagai instrument yang bisa dilakukan secara bersama adalahmempercepat implementasi toko tani yang di Sumut rencananya 60 unit, membangunpasar lelang komoditas sebagai sarana bagi pedagang dan petani berinteraskisecara wajar serta mengaktifkan fitur early warning system pada PIHPS Sumutsebagai alat monitoring harga di 33 TPID kabupaten/kota se Sumut.


Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

Plt Gubernur Sumut Buka Sumex 2016

Berita Sumut

Harapkan HTI Dukung Kurangi Dampak Penyalahgunaan Narkoba

Berita Sumut

Sekda Provsu Apresiasi Pasar Lelang Cabai Merah Taput

Berita Sumut

Sekda Buka Sosialisasi dan Kordinasi Penyaluran Bantuan Benih Pajali se Sumut

Berita Sumut

Plt Gubsu Harapkan Parmusi Semakin Mengakar di Masyarakat

Berita Sumut

Plt Gubsu Buka Sosialisasi Calon Ketua Ikatan Notaris Indonesia