Matatelinga.com, Keluarga korban banjir bandang masih harap-harap cemas menunggu kepastian dari tim medis di Rumah Sakit Bhayangkara apakah korban merupakan keluarga mereka atau tidak. Sejumlah keluarga korban tampak memberikan keterangan kepada tim medis di posko antem mortem Rumah Sakit Bhayangkara. Saat memberikan keterangan tak jarang keluarga meneteskan air mata meskipun mereka belum bisa memastikan apakah korban itu adalah keluarganya. Seperti penuturan oleh seorang ibu rumah tangga bernama Khairani Rohani, 53, warga Jalan Matahari 5, Helvetia. Kedatangannya ke pos antem mortem Rumah Sakit Bhayangkara untuk memastikan apakah anaknya menjadi korban banjir bandang. "Saya datang ke rumah sakit untuk memastikan apakah anak saya M Iqbal jadi korban disana atau enggak. Hari Minggu kemarin dia (M Iqbal) pamit sama saya. Katanya dia diajak oleh kawanya dari Kampus Stikes Flora. Dia diajak kawannya karena kan sudah pergi kesana sebelumnya. Jadi dia (M Iqbal) diajak sebagai pemandu disanalah," beber Rohani didampingi suaminya, Bambang di posko Antem Mortem. Kata Rohani lagi, hingga Senin (16/5/2016) siang ia dan keluarganya belum menerima laporan dari tim medis apakah salah satu korban yang berada di ruang jenazah merupakan anak semata wayangnya atau tidak. "Belum. Kami belum menerim apakah korban yang ada di dalam ruang jenazah itu anak kami atau enggak. Iqbal anak kami satu-satunya. Kami berharap korban itu bukanlah anak kami. Kami pun masih harap-harap cemas. Anak kami kuliah di UMSU jurusan ekonomi semester dua. Dia hobi ngoleksi vespa," ungkap Rohani sambil menghusap air matanya. Diceritakan Rohani lagi, musibah banjir bandang yang terjadi di Des Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit diketahuinya dari teman-teman anaknya yang selamat. Meski terkejut mendengar kabar duka itu, ia dan keluarganya langsung berangkat ke lokasi musibah. "Kami keluarga tahunya dari teman-teman Iqbal yang selamat. Kami terkejut dengar musibah ini. Kami langsung berangkat ke lokasi kejadian dan belum bisa memastikannya. Terus kami pergi lagi ke Rumah Sakit Adam Malik Medan. Sampai disana kami juga belum dapatkan informasi. Makanya akhirnya ke rumah sakit Bhayangkara," terang Rohani. Rasa berkabung bukan hanya dialami oleh Rohani saja, tapi rasa itu juga dialami oleh Hasonangan, 25. Ia mendatangi posko antem mortem untuk memastikan apakah sepupunya bernama Rafki mahasiswa Stikes Flora menjadi korban atau tidak. "Aku dapat kabar dari orang tua korban yang selamat juga bang. Ya itulah kami langsung ke Rumah Sakit Bhayangkara. Sepupu saya yang ikut ke air terjun dua warna itu bang. Namanya Rafki. Rafki mahasiswa Stikes Flora dari Riau," ujarnya. Begitu juga dengan keluarga korban banjir bandang lainnya. Mereka terlihat cemas saat memberikan data-data anggota keluarganya dan berharap kepada tim medis segera memberikan kepastian. Sesekali mereka juga mondar- mandir di depan ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara. Tetapi tetap saja mereka cemas apakah korban didalam ruang itu termasuk keluarganya atau tidak lantaran tim medis enggan memberikan keterangannya. Kecemasan juga terlihat dari belasan mahasiswa Stikes Flora Sunggal. Mereka juga ingin melihat dan mendapatkan kepastian apakah teman mereka menjadi korban musibah banjir bandang. Meskipun kemungkinan besar teman mereka menjadi korban banjir bandang di air terjun dua warna di Desa Bandar Baru, Sibolangit pada Minggu kemarin.(Mtc)