MATATELINGA, Tapteng: Meski pun diusir dari pinggir lapangan sepak bola Pandan, tempat upacara Hari Kebangkitan Nasional dilaksanakan. Boru Tanjung bersama anaknya yang sudah putus sekolah, ngotot dan bertahan di tempat dengan tujuan ingin menyaksikan kelangsungan upacara, dan proses baris-berbaris para Angkatan dan Kepolisian."Kami mau nonton pak, anakku ini sudah putus sekolah. Dia pengen kali melihat proses baris berbaris polisi dan tentaranya. Enak kalau dilihat mereka baris dan berjalan. Kami nggak tau, kenapa kami diusir pak, padahal kami cuman menonton saja. Kami pun duduk di belakangnya. Kami nggak ada mengganggu upacara pak," kata Boru Tanjung yang mengaku salah seorang warga Pandan, suaminya orang Aceh, Jumat (19/5).Sementara anaknya yang baru berusia 14 tahun ini saat diajak untuk berbincang-bincang mengakui, kalau dia sudah lama putus sekolah. Dia memang pingin sekali bersekolah, tapi kedua orangtuanya tidak mampu. Dan dia harus ikut bersama ibunya untuk bekerja mencari barang bekas, demi sesuap nasi."Udah lama pak, aku mau lihat yang baris ini pak, enak dilihat. Gimana mau sekolah pak, uang mama sama ayah nggak ada pak. Siap upacara ini, kami biasanya cari aqua bekas, udah banyak baru kami jual untuk makan pak. Nggak tau, kenapa kami diusir orang itu pak, kami tidak ada ribut, kami hanya duduk dan melihat saja, tapi diusir pak," katanya. (Mtc/romp)