MATATELINGA, Tapteng: Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Bakhtiar Ahmad Sibarani memimpin ratusan personil gabungan dari Satpol PP dan TNI/Polri bongkar habis ratusan pondok 'kitik-kitik' atau kerap disebut pondok 'goyang' yang diduga kerap dijadikan tempat melakukan asusila.Bupati Tapteng, Bakhtiar mengatakan pembongkaran ratusan pondok yang diduga kerap dijadikan sebagai tempat melakukan asusila itu sebagai salah satu bentuk keseriusan Pemda untuk memberantas penyakit masyarakat."Bukan hanya di bulan puasa ini saja (dibongkar,red), selanjutnya ini akan diteruskan. Bagaimana kita pemerintah untuk mengatasi penyakit masyarakat ini, ya seperti ini," ujar Bakhtiar kepada wartawan, Rabu (7/6) saat personil gabungan sedang melakukan pembongkaran pondok di Pantai Kalangan, Kecamatan Pandan, Tapteng.Bakhtiar juga menuturkan, pembongkaran pondok serupa akan dilakukan di seluruh wilayah Kabupaten Tapteng, dan apabila pemilik pondok masih memasang kembali setelah dibongkar maka akan berhadapan dengan pihak kepolisian."Di seluruh tapteng ini, kalau di bangun kita hancurkan, kalau dipasang akan kita laporkan ke pihak berwajib," ucapnya. "Gimana pula diatas gunung gini ada orang yang berkeluarga datang?," tambah Bakhtiar sambil menunjuk pondok yang berada di bukit kalangan yang sedang dibongkar.Saat pembongkaran pondok 'kitik-kitik' di Pantai Kalangan Indah itu berlangsung, sejumlah bungkus kondom juga ditemukan dilokasi tersebut. "Lihat ini kan (bungkus,red) kondom ini," ucap Bakhtiar sembari menunjuk bungkus kondom.Pembongkaran pondok serupa juga dilanjutkan dilokasi yang dikelola warga berbeda dari sebelumnya, namun usai melakukan pembongkaran tiba-tiba pemilik pondok melakukan protes saat petugas Satpol PP hendak memasukkan papan pondok yang telah dibongkar ke Mobil Truk Satpol PP, suasana pun sempat tegang."Gak usah kau angkat itu, yang kelian surati kan membongkar bukan mengangkat," ujar Aigon Efendi Simatupang kepada Satpol PP yang bertugas.Melihat kondisi itu, petugas Polisi pun dengan sigap memberikan pengarahan kepada Aigon sehingga proses pengangkutan bahan-bahan pondok yang dibongkar diteruskan. Dalam kesempatan itu Aigon menuturkan bahwa ia sangat tidak berterima dengan pembongkaran pondok miliknya itu, karena sesuai pemberitahuan yang ia terima ia telah melaksanakannya."Ada, dibilang jangan kitik-kitik maksiat, ya kita potong setengah (ketinggian dinding penutup pondok,red), sudah kita lakukan, lalu kenapa dibongkar? Mau dibawak lagi, ya kita tidak terima ini. Tolong dijelaskan apa maksudnya kitik-kitik ini?," keluh Aigon. Selain ada yang kontra, ada juga warga yang pro atas tindakan yang dilakukan oleh Pemkab Tapteng tersebut."Bagus, pemerintah sudah mengambil kebijakan, karena kalau sudah gelap-gelap apa lagi lah? Raba-merabalah terjadi," ucap Arsini Sihombing ,60, salah seorang Imam di salah satu Masjid di Kalangan yang datang kelokasi pembongkaran pondok. (Mtc/romp)