MATATELINGA, Medan: Wagubsu, Dr Nuhajizah Marpaung mengatakan Provinsi Sumatera Utara masih memerlukan pemimpin perempuan. Sebab, saat ini perempuan tidak hanya sudah berpendidikan tinggi, tapi perempuan juga memiliki kelebihan lainnya yakni tetap bisa merasa dan bukan asal bisa merasa.Hal itu diungkapkan Wagubsu dalam acara berbuka puasa dengan tokoh/pemimpin perempuan di Medan yang digelar oleh Konsulat Jenderal Amerika Serika (AS) di Medan, di rumah dinas Konjen AS, Jalan Walikota Medan, Kamis (15/6).Hadir dalam kesempatan itu, Wakil Konsul AS di Medan, Tamra Greig, Econ Specialist Konsul AS di Medan, Rachma Jaurinata, Mantan Ketua DPRD Kabupaten Deliserdang, Fatmawaty, Wakil Bendahara Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Medan, Latifah Hanum, Ketua Lansia Sumut, Ibu Zakaria, Ketua Umum Pendidikan Shafiyatul Amaliyah, Rachmawaty Raz, Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provsu, Nurlela, Penasehat Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Ranggini, juga praktisi lingkungan Dewi Budiarti Teruna J Said. "Di Sumut ini perlu diisi oleh perempuan, karena perempuan selain memiliki pendidikan tinggi juga perempuan tetap akan bisa merasakan, berbeda dengan laki-laki yang asal bisa merasa," ujar Wagubsu, Nurhajizah Marpaung.Lebih lanjut dijelaskan Nurhajizah, perempuan itu kalau menjadi pempimpin maka diyakininya akan tetap bisa merasa ataupun berpikir untuk menimbang dengan rasa. "Kita perempuan ini akan selalu seperti itu, kita akan bisa merasa, bagaimana kalau saya berada di pihak yang susah, atau bagaimana kalau saya berada di pihak yang miskin, ini kelebihan kita. Kalau kaum lelaki kan dia asal bisa merasa saja," terang Nurhajizah.Wakil Konsul AS di Medan, Tamra Greig mengapresiasi kehadiran Wagubsu dalam pertemuan tersebut. Apalagi Sumut baru pertama sekali memiliki Wagubsu perempuan. Dalam kesempatan itu, tokoh-tokoh perempuan di Medan memberikan inspirasi juga berbagai masukan terkait isu-isu perempuan di Sumut, seperti persoalan belum tercapainya kuota perempuan 30 persen di Sumut, minimnya fasilitas public untuk para lansia, persoalan kekerasan terhadap perempuan yang masih tinggi juga perdagangan perempuan dan anak, hingga persoalan untuk saling menjaga keberagaman karena Sumut selain multi etnis juga terdiri dari berbagai agama.(Mtc/amr/rel)