MATATELINGA, Medan: Jenajah Muhammad Gunawan alias Wawan (22), TKI ilegal yang tewas karena penyakit di Malaysia akhirnya tiba di kediamannya Jalan Melati, Medan Polonia, Kota Medan Kamis (2/11/2017) sekira pukul 18.00 WIB. Jenajah yang dibawa dengan menggunakan ambulan ini langsung disambut dengan jerit tangis pihak keluarga.Kesedihan mendalam terpancar jelas dari raut wajah Maimunah, ibu Wawan. Anak sulungnya itu meninggal dunia enam hari lalu di negeri tetangga, Malaysia."Anakku, anakku," sebut Maimunah di pembaringan Wawan.Di luar rumah, tenda berwarna putih sudah dipenuhi sanak keluarga yang turut memberikan belasungkawa.Tangisan keluarga serta tetangga kembali pecah saat keluarga membuka kain kafan Wawan yang sudah terbujur kaku di peti mati berwarna putih. "Tolonglah dibuka dulu, bentar saja, kami mau lihat untuk yang terakhir," kata adik bungsu Wawan. Prosesi pemakaman Wawan pun tidak butuh waktu lama. Usai shalat magrib, jenajah yang disemayamkan di ruang tamu rumah papan yang sangat sederhana itu kemudian dikebumikan di Pemakaman Umum yang berada tidak jauh dari kediaman orang tuanya.Turut melepas jenajah, Anggota DPD RI Perwakilan Sumut Parlindungan Purba, Lurah Sari Rejo NurAinun dan sejumlah tokoh masyarakat.Pemulangan jenajah Wawan ini snediri usai difasilitasi Parlindungan Purba. Pada Minggu lalu, Anggota DPD RI asal Sumut Parlindungan Purba datang ke kediaman Wawan dan memberikan bantuan administrasi pemulangan jenazah serta menanggung segala biaya yang dibutuhkan.Parlindungan berharap nasib yang menimpa Wawan jelang akhir hidupnya ini jadi pelajaran bagi semua orang. "Ini soal rasa kemanusiaan. Maka dari itu, kita harap masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri agar bisa menggunakan jalur resmi," kata Parlindungan.Wawan merupakan pemuda berumur 22 tahun. Pada 2014 lalu, Wawan merantau ke Malayasia. Ia memutuskan berangkat dan mencari pekerjaan di negara orang meski memakai paspor pelancong. Hal ini dilakukan Wawan agar bisa meringankan beban orangtuanya yang dilanda serba keterbatasan.Di Malaysia, Wawan berkerja sebagai buruh pada suatu parbrik meubel. Namun setelah jatuh sakit, Wawan diberhentikan oleh majikannya dan ditelantarkan begitu saja.Hingga akhirnya sekarat, Wawan diboyong oleh seseorang ke rumah sakit. Wawan tidak memiliki identitas apapun di sana. Bahkan, dia juga tidak memiliki uang membayar pengobatannya. Beberapa hari diobati, Wawan menghembuskan nafas terakhir. Ia menyerah melawan sakit paru-paru yang diterimanya. (mtc/amr)