MATATELINGA, Medan: "Haruskah kami makan dua bulan sekali pak" itulah kalimat yang dilontarkan Tati (63) saat matatelinga.com menyambangi kediamannya di Jalan Setia Budi Dusun III Gg.Sapar, Sunggal Kanan, Deliserdang, Minggu (11/2/2018). Kalimat ini dilontarkan janda 6 orang anak ini lantaran dirinya tidak pernah lagi mendapatkan jatah beras miskin (raskin) maupun bantuan lain dari pemerintah. Padahal raskin dan bantuan lainnya seperti PKH itu sangat dibutuhkan janda yang sudah ditinggal mati sang suami 12 tahun lalu."Selama kepemimpinan Juliadi sebagai kepala desa tidak pernah lagi mendapat beras miskin (raskin), bahkan kami sebagai warga nya tidak pernah didata ulang. Bantuan apapun saya tidak pernah mendapat lagi seperti PKH, raskin dan bantuan lain," lirih Tati.Begitu pula , Painem (67), warga lainnya, Dia bahkan mengaku sudah lebih dari dua tahun tidak mendapat beras miskin(raskin). "Dulu saya dapat tetapi semenjak penghulu (kepala desa) Juliadi yang baru ini saya tidak pernah lagi mendapat raskin tersebut,"ucapnya.Baik Painem maupun Tati mengaku tidak tahu harus berbuat apa. Mereka juga tidak tahu harus mengadu kemana."Kami sebagai warga kecil tidak bisa berbuat dan harus berbuat apa kami ini. Bahkan Kadus (kepala dusun) saat ini pun saya tidak tau sebab tidak pernah mendata warga seperti saya ini, ada yang datang itu pun hanya orang STM buat ngutip uang kuburan saja Rp.5000; setiap bulan lain tidak ada. Saya berharap agar Kadus mengontrol warga yang mkurang mampu seperti saya. Saya tinggal dengan cucu dan mengontrak rumah 350 ribu rupiah perbulan. Pendapat saya hanya 400 ribu rupiah," pinta Painem.Hasil itu pun lanjutnya, jika ditotal tidak akan mencukupi kebutuhannya. Untuk mencukupi kebutuhan lain dia berharap dari orang lain."Ada warga yang mau dibersikan ladang dan nanam padi milik orang kadang tidak ada, mengharap anak yang dari Natal hanya buat bayar sewa rumah dan jajan cucu saja, cerita Painem sambil menahan tangisnya.Ada juga, Jainun (47) warga yang sama mengaku tidak pernah mendapat dan merasakan bantuan seperti raskin, PKH dari pemerintah. "Saya berharap buat anak sekolah agar mendapat KIP(kartu Indonesia pintar), sebab anak saya 3 lagi yang masih bersekolah jika Tuhan menghendaki saya ingin anak anak kami sekolah lebih tinggi lagi dan menjadi orang yang berguna bagi orang tua bangsa dan negara," sebutnya.Jainun mengaku dengan pekerjaanya yang hanya sebagai pembuat kripik ubi sambal tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga. "Ada untuk makan saja sukur. Makanya sama kami Raskin dan PKH itu sangat berarti. Tapi kami tidak pernah didata oleh kepala dusun," terangnya."Memang kades selalu melintas di disini itupun hanya membunyikan klakson sepeda motor saja .kalau buat singgah , dan bermasyarakat, apalagi mendengar keluh kesah warga tidak pernah sama sekali,"ucapnya mengakhiri. (mtc/del)