Matatelinga - Binjai, Pelanggan air PDAM Tirtasari Kota Binjai, harus menanggung rasa penuh kecewa. Sebab, selain kwalitas air yang tanpak berlumpur jika diendapkan selama seharian. Satuharian, perusahaan daerah ini mematikan aliran air bersih ke rumah-rumah pelanggan, Selasa (11/2/2014).
"Abang bayangkan aja, masak air mati dari pukul 01.00 dinihari tadi sampai pukul 16.00 sore ini. Sudah itu kwalitas air minum PDAM juga kurang baik. Karena kalau diendapkan sehari saja, maka akan tanpak lupur mengendap di dasar bak," ucap Hari warga WR Mongonsidi yang rumahnya tidak jauh dari kantor PDAM.
Matinya air bersih milik PDAM Tirtasari ini membuat warga di Kota Binjai menjadi resah dan kesulitan mendapatkan air bersih yang biasa dihasilkan oleh perusahaan daerah. Sehingga ada beberapa warga yang harus relah tidak mandi pagi saat berpergian keluar rumah.
"Abang bayangkan kalau hal ini terjadi terus menerus. Terpaksa, kita harus beralih ke sumur bor dan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Tidak mungkin kami mandi di sungai kan. Kalau seperti ini, lebih baik buat sumur bor saja," oceh dia kesal.
Dengan matinya air secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Membuat seluruh warga terlihat sedikit panik. Mereka menjadi bingung dalam melakukan aktifitas nantinya. Karena mereka sangat mebutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, memasak dan lainya.
"Kalau pun mati, tolonglah beritahukan kepada pelanggan. Jangan seperti ini. Yang ada membuat kami warga disani menjadi bingung bang. Sesulit apa sih mengelola air sungai yang dijadikan air minum bang," tanya Yudi Samanhuddi, Kelurahan Satria.
"Aku juga heran, kenapa PDAM mematikan air ke rumah pelanggan. Padahal, setahu kami selama ini PDAM menggunakan air sungai untuk menyalurkan air bersih ke rumah-rumah warga," timpalnya lagi.
Hingga samapai saat ini, pihak PDAM belum bisa ditemui baik bagian pelayanan maupun dirut. Sementara salah seorang karyawan PDAM yang berhasil ditemui mengakui matinya air dikarenakan adanya perbaikkan pipa di marcapada. "Ada perbaikan pipa di Marcapada bang,' timpal pria berbaju biru ini.
Sayang ketika ditanya sampai kapan air tersebut mati. Ia pun tidak bisa menjelaskan hal tersebut secara terperinci. "Kurang tahu aku sampai kapan, soalnya humas sedang tidak berada ditempat," timpalnya.
(Hendra/Adm)