Matatelinga - Binjai, Pemerintah khusunya Pemko Binjai dan pihak kepolisian didesak untuk mengusut tuntas kematian Nita Boru Hutahuruk (34) warga Jalan Bintara, Kelurahan Satria, Kecamatan Binjai Kota. Karena keluarga meyakini kalau korban mati secara tidak wajar saat menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI-red) di negeri jiran Malaysia."Kita meminta agar pihak pemerintah dan kepolisian untuk menyelidiki permasalahan tewasnya Nita, secara tuntas. Dimana, ada dugaan korban dibunuh saat menjadi tenaga kerja disana," kata M Zen Hutabarat, selaku ketua Satria Kota Binjai dibawah naungan Partai Gerindra saat mengunjungi rumah keluarga korban, Kamis (13/2/2014) siang.Dengan adanya tindak lanjut dari pihak-pihak intansi terkait, Zein Hutabarat, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan korban berharap, tidak ada lagi korban-korban yang berjatuhan dan TKI seharunya dilindungi. Karena mereka merupakan sosok pahlawan penyumbang devisa negara."Kan sudah jelas dia memiliki faspord. Mana yang dikatakan dirinya ilegal, pihak disnaker juga harus menjelaskan secara terperinci. Agar, masyarakat dapat mengerti dan membandingkan secara pasti. Kalaupun dirinya berangkat secara tidak resmi, dia kan masih warga negara Indonesia yang merupakan tanggungjawab kita bersama," tatar dia.Tidak hanya memberikan semangat dan berjanji akan menjembatani permaslahan ini dengan pihak kepolisia Polres Binjai, gara meminta pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini. Pria yang akan mengikuti pilcaleg DPR dengan nomor urut 7 dari Partai Gerindra ini juga memberikan bantuan dan semangat kepada seluruh keluarga. "Kita akan berusaha menjembatani masalah ini kepada Kapolres Binjai dan pemerintah. Agar penyebab kematian korban dapat terungkap," terang dia.Sementara Ika Boru Hutahuruk, selaku kakak kandung korban yang selama ini tinggal di Pekan Baru, menduga adiknya dibunuh. Karena tanggal 30 Januari tahun 2013, dirinya sempat bertelponan dengan korban. Terdengar dari ujung telpon dengan nomor Malaysia. Adiknya terlihat tergesa-gesa saat menguhubungi dirinya.Seolah-olah ada orang yang mengejar atau memburu dirinya. "Dia menyebut namaku tiga kali, kak, kak, kak. Lalu, telponya mati tiba-tiba dan tidak bisa dihubungi kembali. Dari situ aku merasa cemas dan sehari sebelum ditelponya aku. Dia juga sempat melakukan sms dan mengaku akan pulang besok," timpal dia.Kecurigaanya juga didukung dengan, terlihatnya bercak biru pada lehernya seperti dicekek atau dijerat orang. "Kalaupun terapung dilautan selama empat hari. Kenapa kantong mayatnya tidak berair dan pasford yang dibawanya tidak hancur. Selain itu, kenapa Pol Airut, saat menyerahkan mayat seolah-olah tergesa-gesa dan mayat sendiri tidak diserahkan di kantor polisi terdekat di Desa Sinoboi, Kecamatan Sinobo, Pekanbaru tempat adik kami ditemukan," tuturnya sedih.Menyikapi permaslahan ini Kapolres Binjai AKBP Marcellino Sampouw SH Sik mengatakan, pihaknya akan melaksanakan tugas kepolisian sesuai tukpoksi dan jenjang koordinasi kendali kepolisian. "Kita akan melaksankan tugas polres sesuai tukpoksi dan jenjang koord kendali kepolisian, thanks," tegas Kapolres singkat melalui pesan singkatnya.Sebelumnya, Wakil Walikota Binjai Timbas Tarigan menyatakan, keberangkatan Anita Boru Hutahuruk, tidak terdaftar di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Binjai serta BPN3 TKI. "Keberangkatan Anita, tidak terdaftar dalam dinas sosial dan tenaga kerja serta BPN3. Pun begitu, kita akan melakukan pengecekan lagi," terang Timbas.Dirinya juga turut prihatin atas musibah yang menimpa keluarga. Untuk itu, pemerintah Kota Binjai, akan lebih mengintensifkan lagi sosialisasi bagi warga yang akan berangkat menjadi TKI. Setidaknya dengan langkah ini dapat mencegah korban kembali berjatuhan. "Kita akan bekerja lebih giat lagi, agar tidak ada korban-korban berikutnya," timpal Timbas. (Hendra/Adm)