MATATELINGA, Medan: Rumah Komunikasi Lintas Agama ( RKLA ) Sumatra Utara berharap, seluruh elemen dan komponen masyarakatan yang ada. Ikut bersama-sama dengan POLRI danTNI menjaga susasana kondusif yang telah terjalin sejak lama. Hal ini disampaikan Wakil Ketua RKLA Sumut, Ir. Soufi Nur Restu kepada wartawan, saat bincang-bincang di Hotel Emerald Garden, Minggu malam, (23/9/2018). Dipaparkan Soufi Nur yang akrab disapa Pipin ini, Sembilan etnik yang ada di Sumatra Utara khususnya di Kota Medan. Telah ratusan tahun berhubungan akrab dan menjalin komunikasi intim penuh kekeluargaan antara satu dengan yang lainnya. Buktinya lanjut Soufi, terlihat dari keberagaman masyarakat multi etnik yang mendiami kawasan wilayah, baik perkebunan, pemukiman maupun kawasan perdagangan dan perindustrian, serta pelabuhan di kabupaten/kota yang ada."Ini fakta jika kita semua bersaudara, karenanya mari kita jaga dan pelihara suasana kondusif ini. Jangan sampai perbedaan dan keberagaman yang ada rusak dan pecah hanya karena kepentingan politik sesaat hingga menggoyahkan keutuhan, persatuan serta kesatuan bangsa. Padahal sebenarnya keberagaman dan perbedaan itu hidup dalam bingkai NKRI serta Bhineka Tunggal Ika", harap Soufi Nur.Dia juga menghimbau, dalam penyampaian aspirasi serta orasi di muka publik. Patutnya dilaksanakan secara santun dan beretika, dengan menjunjung tinggi hak dan kebebasan orang lain yang tidak sependapat. Jadi aspirasi tidak disampaikan secara arogan, dengan mempertontonkan egoisme kelompok serta golongan, lewat manuver aksi pengerahan massa, yang terkesan sengaja dibenturkan dengan instansi maupun lembaga pemerintah."Kita khawatir arogansi dan egoisme tadi dapat memancing gesekan dengan pihak lain. Hingga melahirkan anarkhi, yang pada akhirnya merugikan masyarakat Sumatra Utara secara keseluruhan", prihatin Soufi Nur lagi. Didampingi aktifis RKLA lainnya yakni, Saman Lubis, Alfiannur Syafitri, dan Helmi Nasution. Sekretaris DPD LSM LIRA Kota Medan ini mengkhawatirkan, kedewasaan juga kematangan masyarakat Sumut yang hidup dalam keberagaman bakal diuji, utamanya oleh iklim demokrasi dan suasana tahapan Pilpres 2019 mendatang. "Sosialisasikan keberadaan masing-masing pasangan secara komunikatif dengan bijak dan bermartabat kepada para pemilih. Silahkan saling kritik, tapi jangan saling hujat. Sebab apapun hasilnya nanti, kita di Sumatra Utara ini tetap saja bersaudara. Jangan sampai persaudaraan dan persahabatan kita terusik dan rusak hanya karena kepentingan perolehan suara semata. Pilihlah satu dari dua pasangan yang ada. Jangan GOLPUT, dan apapun hasil PEMILU 2019 nantinya. Hasil PEMILU tersebut diterima sebagai pemimpin negara yakni RI 1", ujar Soufi Nur Restu. Dijelaskannya RKLA komit menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang berasal dari keberagaman itu, merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai organisasi yang dibentuk menjadi wadah persatuan dan kesatuan oleh para pemuka berbagai agama yang ada di tanah air."Persatuan dan kesatuan ini harus terus kita jaga dan pelihara, dengan tidak memandang unsur suku, etnik, dan agama"; sebut Soufi Nur Restu. Lalu menginformasikan secara nasional RKLA akan dideklarasikan 1 Oktober 2918 mendatang di JEC Expo Jakarta. oleh deklarator dan penggagasnya Bu Indah(Mtc/rel)