MATATELINGA, Medan: Warga Banjar yang ada di Sumatera Utara mempunyai tradisi khusus dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah tradisi Baayun Maulud.Tradisi ini dilakukan oleh warga Banjar yang berada di Dusun Kampung Lama Desa Tandam Hilir II, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang. Sekitar 111 ayunan dari kain jarik batik tersusun di Lapangan Bola Jalan Karya Bakti, di dusun tersebut, Selasa (20/11). Semuanya dihias secantik mungkin. Menggunakan kertas rumbai warna-warni, ataupun kain yang dibentuk pita. ebutAgar tertib, di atas ayunan ditempel foto dan a nama bayi yang akan diayunkan. Totalnya 111 bayi yang ikut peringatan Baayun Maulud. Ratusan bayi itu kemudian diletakan diayunan tersebut didampingi kedua orangtuanya. Kemudian seorang tokoh adat memandu acara tersebut. Saat diayun, anak-anak juga diperdengarkan senandung pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Karena memang Baayun adalah bentuk pujian dan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad. Sembari mengayun anak, para orangtua berebut bendera hiasan ayunan. Isinya berupa makanan ringan dan telur rebus. Setelah berayun, para bayi kemudian digendong orangtua. Mereka kemudian berbaris dan ditepungtawari oleh tokoh agama. Anak-anak juga mendapat Alquran sebagai hadiah. "Ini sudah tiga kali saya ikut Baayun. Harapannya semoga anak sehat selalu, semoga anak murah rezeki tidak melawan pada orang tua, menurut ajaran nabi Muhammad. Semoga tahun depan lebih meriah lagi," ujar Siti Khadijah, 38 salah satu orangtua yang ikut Baayun. Dulunya, Baayun adalah traisi peninggalan nenek moyang suku banjar penganut kepercayaan Kaharingan. Tradisi ini bermula di Kabupaten Tapin dan menyebar ke seluruh Kalimantan Selatan. Sebelum masuknya Islam, suku Dayak Kaharingan yang berdiam di Kampung Banua Halat melaksanakan upacara Aruh Ganal yang diikuti juga dengan prosesi Baayun. Upacara digelar sangat meriah. Karena bertepatan dengan masa panen padi. Setelah Islam mulai berkembang Baayun mengalami asimilasi. Upacara dilaksanakan dengan nuansa Islam. Di Sumatera Utara, acara Baayun dilaksanakan dengan para Banjar perantau. Kata tokoh adat setempat, ini sudah dilakukan turun temurun. "Sejak jaman belanda, mula-mula orang orang Banjar yang merantau ke Tanah Deli, di Sumatera Utara. Setiap ada anak yang lahir di tepung tawar, diayun pada hari Maulid. Dalam agama disebut Tafaul atau optimis, mudah mudahan dapat berkah dari Allah SWT mudah mudahan dapat mengikuti ajaran Rasuluaalh. Sudah besar dididik dengan ajaran agama Islam," kata Tokoh Masyarakat Banjar- Hamparan Perak Husni Laili. Baayun di hamparan Perak terus dilestarikan. Kegiatannya juga rutin setiap tahun. Tepatnya ketika Maulid Nabi. Tidak hanya diikuti oleh suku Banjar, ternyata tradisi Baayun ini juga diikuti oleh etnis dari suku lainnya. Hasilnya, tradisi turun temurun ini juga menjadi pererat silaturahmi antar etnis disana. (mtc/fae)