MATATELINGA, Belawan: Susanti (55) janda yang memiliki 4 orang anak ini terpaksa bekerja mengkais sampah untuk menafkahi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil kecil.Warga Jalan Nipon Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan ini mengaku sudah 15 tahun lebih melakoni hal ini pasca ditinggal mati sang suami."Waktu itu anak anak masih kecil kecil dan untuk menafkahi mereka saya harus banting tulang di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah ini," sebutnya.Susanti mengaku sang suami tidak meninggalkan sepeser harta hanya sebuah tempat tinggal atau disebut gubuk yang sudah tua/reot dan 4 orang anak anak yang waktu itu masih kecil. "Untuk memenuhi kehidupan kami sekeluarga saya mencari nafkah ditempat ini dengan gaji yang pas pasan untuk makan dan untuk biaya anak anak sekolah,"urainya."Masalah gaji, saya hanya digaji 30 ribu hingga 40 ribu rupiah setiap hari oleh toke saya. Setiap hari saya harus memilih plastik bekas ini tentang warnanya.Jika yang didapat warna merah ya digabung sama yang,yang putih sama putih dan yang hitam ya sama yang hitam. Plastik bekas yang dikumpulkan ini untuk didaur ulang oleh toke saya," tambahnya lagi.Susanti hanya bisa berharap agar pemerintah dapat memperhatikan nasib para pengepul sampah seperti dirinya."Tolong perhatikan nasib nasib kami pengepul plastik bekas yang ada di TPA ini. Tapi maunya Pemerintah Propinsi dan Pemko Medan jangan hanya memperhatikan saja tapi bantulah kami kami yang berada dilokasi ini. Sebagian warga perkotaan menganggap sampah itu adalah limbah yang harus dibuang tapi bagi kami sampah itulah yang menghidupi keluarga kami sampai anak anak kami bisa bersekolah," harapnya. (mtc/rompas)