MATATELINGA, Medan: Pjs.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Hilman Tisnawan mengungkapkan kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu semakin mempertegas perlunya sinergi untuk memperkuat ketahanan dalam menghadapi dampak rambatan global sambil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri.Hal ini diungkapkannya dalam acara "Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara 2018" di Medan, Jumat (14/12)."Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu dicermati dalam menghadapi kondisi ini, " kata Hilman. Pertama, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Euro Area, Jepang dan Tiongkok diperkirakan menurun, mempengaruhi perlambatan ekonomi global secara keseluruhan. Hal ini mendorong volume perdagangan dan harga komoditas tetap rendah dan diprediksi dapat memberikan dampak negatif terhadap ekspor Sumatera Utara. Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, the Fed, akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya. Meningkatnya tekanan inflasi dan aktivitas ekonomi yang semakin kuat telah menyebabkan stance kebijakan moneter AS semakin ketat. Setelah menaikkan Fed-Fund-Rate (FFR) sebanyak 4 kali pada tahun ini, the Fed AS kemungkinan akan menaikkan lagi suku bunganya sebanyak 3 kali pada tahun 2019. "Hal ini memberikan tantangan bagi bank-bank sentral Emerging Markets, termasuk Indonesia, dalam merumuskan respons kebijakan moneternya untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonominya dalam memitigasi dampak rambatan keuangan global," tuturnya.Ketiga, sebut dia, ketidakpastian di pasar keuangan global akibat ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara Emerging Markets. "Ketiga perkembangan global tersebut berdampak pada penguatan mata uang dolar AS dan pembalikan modal asing dari negara Emerging Markets," sebutnya. Ditengah perkembangan ekonomi global yang tidak kondusif, sambungnya, kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2018 berjalan cukup baik dengan stabilitas tetap terjaga dan momentum pertumbuhan yang berlanjut.Hilman menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,1% ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, terutama dari sisi investasi dan konsumsi rumah tangga. Begitupun, permintaan eksternal berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi akibat tingginya pertumbuhan impor. Perbaikan kinerja perekonomian nasional disertai oleh upaya penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang aman.Sedangkan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai mekanisme pasar dan mendukung proses penyesuaian sektor eksternal dalam menopang kesinambungan perekonomian. Tekanan depresiasi Rupiah tidak terlepas dari kuatnya mata uang dolar AS dan pembalikan aliran modal asing seiring dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global. Namun, respons kebijakan moneter dan langkah stabilisasi oleh Bank Indonesia dengan koordinasi erat Pemerintah dapat meredakan tekanan depresiasi Rupiah. "Depresiasi nilai tukar rupiah bahkan lebih rendah dari negara – negara Emerging Markets lain, seperti India, Afrika Selatan, Brazil, Rusia dan Turki," ungkap Hilman.Dalam pertemuan itu, Hilman menyatakan, inflasi sepanjang tahun 2018 tetap rendah dan karenanya mendukung peningkatan daya beli masyarakat. Inflasi 2018 diperkirakan sekitar 3,2%, di bawah titik tengah kisaran sasaran 3,5±1%. Rendahnya inflasi lanjut dia, didukung oleh terjaganya ekspektasi inflasi, minimalnya tekanan permintaan, dan terbatasnya dampak depresiasi Rupiah. Terkendalinya inflasi khususnya kelompok volatile food dan administered prices juga merupakan hasil nyata koordinasi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi, baik di pusat maupun di daerah.(Mtc/amel)