MATATELINGA, Medan: Persoalan sampah tak pernah habis-habisnya diperbincangkan oleh semua kalangan, berbagai kegiatan juga sudah banyak digelar dengan topik bagaimana mengatasi permasalahan sampah yang ada di kota-kota besar. Jika tidak dikelola dengan baik, tempat pembuangan akhir (TPA) akan menggunung dan menimbulkan masalah baru.Atas keprihatinan ini, mahasiswa Universitas Methodist Indonesia (UMI) yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) L&C Rindala menggelar acara seminar bertajuk Bye Sampah Plastik dengan Tema : Kendalikan Sampah Plastik. Seminar yang mengusung Sub Tema : Membangkitkan kesadaran mahasiswa, mahasiswi dan masyarakat tentang pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari sampah plastik, digelar Sabtu (27/4/20) di Kampus 3 UMI Medan Jalan Pertambangan Pasar II Tanjung Sari, Medan.Menurut Ketua Panitia Seminar Rinto Alfandi Sianturi didampingi Sekretaris Rupindo Simbolon dan Bendahara Sandro Tua Silaban, acara seminar juga melibatkan delegasi mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi seperti USU, UMA, Univ. HKBP Nomensen, ITM, Darma Agung, UINSU, UNIKA, Triguna Dharma serta perguruan tinggi lainnya.Wakil Dekan III Dr. Ernitha Panjaitan, Ir. Indrawaty Sitepu foto bersama dengan panitia dan pembicara seminar."Kita juga mengundang delegasi mahasiswa dari mahasiswa pencinta alam (Mapala) dari beberapa kampus di Medan, Himapsi UMI dan mahasiswa Pertanian UMI,'" tutur Rinto Alfandi Sianturi.Acara seminar yang dihadiri Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dr. Ernitha Panjaitan, salah seorang dosen Ir. Indrawaty Sitepu, dengan pembicara dari Rumah Kompos dan Bank Sampah Induk Sicanang Belawan Sumatera Utara, Armawati Chaniago.Dalam materinya, Armawati Chaniago menyampaikan bahwa satu orang warga Kota Medan bisa menghasilkan sampah 0,7 kilogram, dan Kota Medan bisa menghasilkan 2000 ton sampah per hari dan tinggi sampah mencapai di TPA Terjun sudah mencapai 45 meter. Jika tidak dikelola dengan baik, 2 tahun ke depan Medan akan kesulitan dalam mengatasi masalah sampah."Saya mulai fokus dengan masalah sampah sejak tahun 2009. Dari hasil pengamatan kita selama ini, 50 sampai 65 persen sampah yang dibuang ke TPA Terjun adalah sampah organik, selebihnya adalah sampah an organik termasuk sampah plastik," kata Armawati.Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang sampah terbesar ke laut, dimana 90 persen sampah yang dibuang ke laut adalah sampah plastik. Kasus kematian ikan paus di Wakatobi menjadi peringatan bagi kita bahwa ikan paus tersebut mati karena memakan sampah plastik yang beracun."Tanpa kita sadari, kita juga ikut mengonsumsi plastik yang termakan ikan di laut. Dimana zat kimia yang ada dalam plastik yang belum terurai di dalam tubuh ikan, tanpa sadar kita juga ikut memakan zat kimia plastik dalam tubuh ikan," jelasnya.Kampanye tanpa kantong plastik yang diberlakukan di beberapa supermarket, dan kampanye tanpa sedotan di restoran fast food, lanjut Armawati menjadi salah satu langkah positif dalam mengurangi volume sampah plastik.Dalam kesehariannya menangani masalah sampah, Armawati mengingatkan seluruh peserta seminar agar tidak memandang sebelah mata terhadap masalah sampah. Sampah bisa dikelola menjadi sumber penghasilan dan menopang ekonomi keluarga."Jangan berkecil hati ketika suatu saat nanti Anda memilih menjadi pengusaha sampah. Sampah juga bisa menghasilkan uang sampai puluhan juta setiap bulannya," tandas Armawati yang sudah memberikan sosialisasi terkait sampah ke beberapa kampus.Di akhir materinya, Armawati mengajak semua peserta agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan, terutama dalam mengelola masalah sampah. Kita bisa memulai dari diri kita sendiri, mulai dari rumah dengan memilah sampah organik dan anorganik serta jenis sampah lainnya.Setelah acara seminar, panitia juga mengajak seluruh peserta untuk ikut acara fun run dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar kampus. Mengutip sampah dan membagikan kantongan ramah lingkungan pengganti kantongan plastik. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang perduli dengan masalah sampah di sekitar kita?"Fun run dan penyuluhan diakhir acara menjadi salah satu upaya penyadaran kepada diri sendiri dan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan dan memilah sampah yang ada agar mudah diangkut oleh petugas sampah," tandas Rinto Alfandi Sianturi yang juga anggota L&C Rindala UMI Medan.