Semua Insan Memiliki Kesempatan yang Sama dalam Meningkatkan Kualitas Hidupnya

- Rabu, 31 Juli 2019 12:47 WIB
MATA TELINGA/JAMES P PARDEDE
anak-anak yang belajar di Rumah Tahfidz Quran
Tak ada manusia yang menginginkan dirinya terpuruk dan tak bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Dan tak ada pula manusia yang memiliki keinginan menjadi bodoh, tidak bisa membaca dan tidak bisa berhitung. Sebutan bagi orang yang tak bisa membaca dan berhitung adalah warga buta aksara. Di Indonesia masih saja ada ditemukan warga buta aksara. Program pemerintah untuk menuntaskan dan menekan angka buta aksara sepertinya masih butuh keseriusan dari semua kalangan, termasuk keluarga terdekat dan pemerintah.Oleh : James P. PardedeSebagai salah satu anggota UNESCO, Indonesia memberi perhatian yang besar terhadap upaya penuntasan buta aksara. Penduduk Indonesia penyandang buta aksara pada tahun 2017 usia 15-59 tahun sebanyak 3.474.694 orang atau 2,068% (PDSP Kemdikbud,2018). Untuk menuntaskan permasalahan buta aksara tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kerja keras dan komitmen dari semua kalangan untuk menjadikan mereka menjadi insan yang cerdas dan memiliki kualitas hidup yang bisa membawa mereka lebih mandiri.[adx]Penuntasan buta aksara yang diprogramkan pemerintah salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Indonesia. Diawali dari keprihatinannya terhadap banyaknya anak-anak putus sekolah yang menjadi pintu gerbang bertambahnya jumlah masyarakat yang masuk dalam perangkap warga buta aksara, Haji Taufik merasa terpanggil untuk mendidik anak-anak tersebut agar memiliki kecakapan dan kemampuan dalam mengembangkan potensi dirinya.Saat mengunjungi Rumah Rumah Tahfidz Qur'an Haji Taufik di Jalan Setia Budi Pasar I Gang Kancil yang sebelumnya berada di Jalan Pasar II Gang Rapi Tanjung Sari Medan pertengahan Juli lalu, sayup-sayup terdengar dari dalam rumah suara anak-anak asuh Haji Taufik membaca ayat-ayat suci Alquran. Ada sekitar 36 anak sedang duduk bersila dengan melafalkan ayat demi ayat.[adx]Dengan senang hati Haji Taufik dan isteri menyambut kedatangan penulis dan tim dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang datang berkunjung ke Rumah Tahfidz Qur'an yang ia dirikan beberapa tahun lalu. Menurut Haji Taufik, rumah Tahfidz Qur'an didirikan berawal dari keprihatinannya melihat banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena orang tuanya tidak mampu, ada juga yang putus sekolah karena statusnya sebagai anak yatim atau anak piatu.Haji Taufik sangat terharu kalau melihat anak-anak terpaksa putus sekolah apalagi alasannya karena keterbatasan biaya, akibatnya akses anak untuk melanjutkan sekolah di  lembaga pendidikan formal jadi terputus. Padahal mereka masih mempunyai kesempatan yang sama dengan anak seusia mereka untuk meniti masa depannya. [adx]"Saya sangat prihatin kalau kelak anak-anak putus sekolah ini dibiarkan, maka mereka akan masuk dalam daftar warga masyarakat yang buta aksara. Lupa dengan kebiasaannya menulis, membaca dan berhitung. Karena banyak dari mereka yang putus sekolah di kelas 5 dan kelas 6 sekolah dasar," paparnya.Daripada mereka tidak punya arah dan tujuan yang jelas dalam menjalani hidupnya, apalagi di zaman sekarang banyak anak yang terjerumus menjadi pecandu narkoba atau tergiur menjadi kurir narkoba, Haji Taufik menampung mereka dan mengajari mereka tahfidz Qur'an dan pendidikan mengisi kehidupan dengan kemampuan yang mereka miliki.Setiap hari, kata Taufik, ia dan isterinya berusaha untuk membuat yang terbaik bagi anak asuhnya. Makan 3 kali satu hari, dan setiap hari Senin/Kamis menerapkan puasa. Apa yang bisa diolah isteri dan  dihidangkan untuk dimakan, semua anak diajar tetap bersyukur dalam situasi dan kondisi apa pun. [adx]"Setiap hari anak-anak diajar untuk tahfidz Qur'an dan dalam  tiga tahun mereka bisa hafal Al-Qur'an sampai 30 juz. Dalam  hal pendidikan formal, mereka hanya diajar seadanya. Yang paling utama adalah bagaimana membentuk mereka menjadi insan yang berkarakter dan berguna bagi banyak orang. Mereka juga dibekali kemampuan berhitung, menulis dan membaca untuk persiapan mengikuti ujian paket A, B dan C," katanya.Memiliki KepedulianKeprihatinan Haji Taufik semakin lengkap saat anak asuhnya sudah menginjak usia dewasa, karena mereka tidak mempunyai bekal ijazah formal agar bisa diterima bekerja di berbagai sektor usaha. Dari 36 orang anak asuhnya, kebanyakan yang putus sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sebagian kecil putus sekolah di SMA.Walaupun Haji Taufik sudah mengajari mereka tahfidz Qur'an dan bisa hafal Al-Qur'an sampai 30 juz, ia tetap berusaha untuk mencari jalan keluar agar anak asuhnya bisa memperoleh ijazah paket A, B dan C. Hanya saja ia tidak memiliki akses untuk memperoleh informasi akurat terkait persyaratan dan besaran biaya yang harus disiapkan.[adx]Menanggapi keinginan Haji Taufik agar anak asuhnya juga bisa mendapatkan pengakuan dalam pendidikan formal, Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Wilayah Sumut sewaktu dijabat Ny. Choiriyah Rukmono berharap bisa memberi akses dan ikut terlibat dalam mendukung anak-anak bisa memperoleh akses dan kembali bersekolah setelah mereka menyelesaikan tahfidz Qur'an."Anak-anak harus sekolah, paling tidak masa depan mereka ke depan bisa lebih terjamin ketika mereka memiliki ijazah," kata Ny. Choiriyah yang memiliki kepedian memberikan bantuan kepada Rumah Tahfidz Qur'an.Tanpa kita sadari, di luar sana sesungguhnya sangat banyak lembaga yang memiliki kepedulian agar angka buta aksara tidak bertambah lagi setiap tahunnya. Seperti disampaikan Suster Christine, Panti Asuhan dan Sekolah Luar Biasa A (Tunanetra) Karya Murni Johor menyampaikan bahwa ada 56 orang anak asuh Panti Asuhan SLB A Karya Murni. Dari 56 anak asuh ada 5 orang yang beragama Islam, ada juga yang Buddha, Protestan dan Katolik.[adx]"Kita tidak pernah membeda-bedakan anak yang mau belajar di SLB A Karya Murni. Walau pun sekolah ini merupakan yayasan milik Katolik. Tapi kita tetap memberikan pengajaran terbaik bagi setiap anak," kata Christine.Lebih lanjut Christine menyampaikan, saat melihat anak-anak tunanetra yang begitu bersemangat dalam bernyanyi dan tak kenal kata menyerah untuk belajar, membuat kita yang sempurna merasa malu, semangat hidup mereka jadi motivasi bagi banyak orang. Mereka yang tunanetra seharusnya tidak punya harapan untuk mengenal huruf dan angka. Akan tetapi, dengan kemampuan mereka mempelajari braile, mereka bisa menunjukkan kemampuannya dalam berbagai bidang keilmuan.Melihat antusiasme dan kesungguhan anak-anak tunanetra ini seharusnya menjadi penyemangat bagi warga masyarakat yang normal agar tidak sampai masuk dalam lingkaran warga buta aksara. Strategi untuk mempercepat penuntasan buta aksara Indonesia, khususnya Sumatera Utara, pola pengajaran dan materi yang disampaikan perlu kreatif dan menarik minat waga masyarakat yang masih buta aksara untuk tidak hanya belajar baca dan tulis, tetapi juga belajar berbagai keterampilan.[adx]"Harapannya, setelah bisa baca-tulis, dan memiliki kemampuan untuk menguasai salah satu keterampilan atau keahlian, maka kondisi ekonomi masyarakat juga akan membaik. Dengan sendirinya kualitas hidup masyarakatnya juga semakin membaik," kata Anggota DPRD Kota Medan, Wong Chun Sen, Jumat (30/7/2019).  Pola dan strateginya, lanjut Wong Chun Sen pada setiap sesi pembelajaran keterampilan, tutor menyisipkan kata atau kalimat yang harus dibaca agar para peserta tidak menjadi buta huruf kembali. Pentingnya penuntasan buta aksara agar semua warga negara memiliki kualitas dan memperoleh kesempatan yang sama dalam banyak hal. 

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

Bobby Nasution Usulkan Jalur Laut dan Subsidi Logistik untuk Dongkrak Ekspor UMKM ke Malaysia

Berita Sumut

Janji Cuan Mingguan Berujung Petaka, Dua Terdakwa Investasi Wood Pellet Divonis Setahun

Berita Sumut

Rico Waas Segera Bangun Rumah Cica yang 10 Tahun Tinggal di Dapur

Berita Sumut

Evaluasi PAD 2026, Wali Kota Medan Minta Bapenda Kerja Tepat Sasaran dan Punya Target Jelas

Berita Sumut

Kurir 450 Pcs Pod Getar asal Malaysia Diringkus Polisi Sempat Dikejar 5 Km

Berita Sumut

Walikota Medan Hadiri Syukuran HUT ke-38 PT KIM, Kawasan Industri Memiliki Posisi Penting dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi