Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Pemprovsu: Wisata Halal di Kawasan Wisata Danau Toba Tidak Rusak Adat

Pemprovsu: Wisata Halal di Kawasan Wisata Danau Toba Tidak Rusak Adat

- Senin, 02 September 2019 15:16 WIB
mtc/ist
Aliansi Mahasiswa Pecinta Danau Toba (AMPDT) berunjuk rasa di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Senin (2/9). Unjuk rasa yang mereka lakukan untuk menuntut pernyataan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi soal Wisata Halal di Danau Toba. Massa meminta Edy m
MATATELINGA, Medan : Aliansi Mahasiswa Pecinta Danau Toba (AMPDT) berunjuk rasa di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Senin (2/9). Unjuk rasa yang mereka lakukan untuk menuntut pernyataan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi soal Wisata Halal di Danau Toba.  Massa meminta Edy menjelaskan seperti apa konsep wisata halal itu.

[adx]

Sebelum ke Kantor Gubsu, massa terlebih dahulu berunjuk rasa di kantor Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT). Di sana mereka juga menyuarakan penolakan terhadap konsep wisata halal di Danau Toba.

Massa yang berjumlah dua puluhan orang serentak menyanyikan lagu O Tano Batak. Lengkap dengan lantunan seruling dan rampak Gondang Taganing khas Batak.

Massa yang datang ke kantor gubernur menyebut, konsep wisata halal yang bakal diterapkan Edy Rahmayadi keliru. Bahkan massa menuding Edy tidak paham konsep pengembangan pariwisata.

"Kita mau klarifikasi sebenarnya, bagaimana komitmennya apa Pak Gubernur buta dengan kawasan Danau Toba dan kondisi sosial dan budayanya, sehingga mencanangkan wisata halal itu," kata Rico Nainggolan, koordinator aksi.

Di Kantor Gubsu, massa diterima oleh  perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut. Mereka diajak berdialog ke dalam gedung Pemprov Sumut.

Dialog panjang pun terjadi antara mahasiswa dan  pihak Pemprov Sumut. Para mahasiswa beranggapan jika konsep wisata halal bakal mengkotak-kotakkan masyarakat yang ada di kawasan Toba. Bahkan konsep ini rentan menghilangkat adat budaya yang sudah ada.

[adx]

Namun hal ini dibantah oleh pihak Pemprov Sumut. Kabid Pemasaran Disbudpar Sumut Muchlis memaparkan maksud dari konsep wisata halal ang bakal diterapkan berkaitan dengan sisi amenitas sebagai syarat destinasi wisata. Terlebih kepada pegadaan fasilitas seperti tempat ibadah bagi umat Muslim.

"Wisata halal itu lebih kepada pengembangan amenitas tadi. Karena pariwisata ini memenuhi kebutuhan orang," kata Muchlis.

Muchlis memaparkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),  wisatawan asing yang datang ke Sumatera Utara didominasi oleh Malaysia.  Jumlahnya sekitar 53 persen. Dia kembali  menegaskan konsep wisata halal sama sekali tidak untuk mengusik atau bahkan merusat adat budaya di Danau Toba. Karena adat dan budaya di Toba adalah potensi yang harus terus dikembangkan.

"Kita harapkan wisatawan yang datang merasa puas. Multiplier effectnya  mereka bisa datang kembali," ujarnya.

Konsep amenitas ramah Muslim ini juga disebut Muchlis bakal mendongkrak angka kunjungan. Dia juga berharap, masyarakat sekitar tidak takut dengan hal tersebut. Karena tujuan dikembangkannya pariwisata adalah untuk kesejahteraan masyarakat.

[adx]

"Peran kita mengedukasi masyarakat. Supaya mereka paham kebutuhan wisatawan itu apa," pungkas Muklis.

Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya dialog ditutup. Pemprov Sumut juga mempersilahkan para mahasiswa untuk menjadwalkan kembali pertemuan dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Untuk diketahui, sejumlah negara sudah menerapkan konsep halal, sebagai branding pariwisata. Negara yang mulai menerapkannya antara lain, Korea Selatan, China, Thailand, Singapura, India dan lainnya. Konsep ini dilakukan menyusul pertumbuhan wisatawan Muslim yang terus meningkat.

Peringkat Indonesia terus membaik sejak tahun 2015 yang berada di peringkat 6. GMTI menganalisa pertumbuhan kesehatan dan pertumbuhan berbagai destinasi wisata ramah Muslim. Ada empat kriteria strategis yang mendukung wisata ramah Muslim. Mulai dari akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan. (mtc/fae)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

Aula Raja Inal Siregar Gubernur Sumut Berlangsung Ricuh, Dua Orang Terluka

Berita Sumut

Ziarah Penuh Makna HUT ke-78 Sumut, Bobby Nasution Ajak Teladani Jasa Pahlawan

Berita Sumut

Pj Sekdaprov Sumut Sebut One Day No Car Bagian Transformasi Budaya Kerja ASN

Berita Sumut

Pembukaan Sinode ke-65 HKI di Medan, Dihadiri Gubernur Sumut

Berita Sumut

Matatelinga.com Meraih Juara Satu, Pembaca dan Pengunjung Terbanyak Pemberitaan Polda Sumut

Berita Sumut

Momentum Ramadan, DREGS Pererat Silaturahim