Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Kisah Dosen Unimed Miliki Koleksi Surat Ibunda Habibie dan Niat yang Tak Tercapai

Kisah Dosen Unimed Miliki Koleksi Surat Ibunda Habibie dan Niat yang Tak Tercapai

- Jumat, 13 September 2019 15:02 WIB
Mtc/ist
Wafatnya BJ Habibie meninggalkan duka bagi rakyat Indonesia, termasuk seorang dosen di Universitas Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari. Pasalnya Ichwan masih mempunyai keinginan yang ia ingin sampaikan langsung ke Presiden ke-3 RI tersebut.
MATATELINGA, Medan: Wafatnya BJ Habibie  meninggalkan duka bagi rakyat Indonesia, termasuk seorang dosen di Universitas Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari. Pasalnya Ichwan masih mempunyai keinginan yang ia ingin sampaikan langsung ke Presiden ke-3 RI tersebut.

[adx]

Ichwan menyimpan tujuh surat dari ibunda Habibie yang ditujukan untuk Habibie ketikan berada di Jerman. Surat-surat yang diperoleh dari seorang pedagang

filateli itu lah yang ingin dia serahkan langsung kepada Habibie.

Baca Juga:  Makam BJ Habibie Ramai Diperbincangkan Warga Net

Tujuh surat yang dimiliki Ichwan dalam bentuk aerogram, yakni selembar kertas yang berfungsi sebagai kertas surat sekaligus bisa menjadi amplop itu adalah milik Bacharudin Jusuf Habibie.

"Surat ini saya temukan di Stuttgart, Jerman saat pameran internasional prangko dan benda filateli," katanya.

Dikatakannya, selama di Jerman ia hobi mengumpulkan benda filateli dari Indonesia. Saat musim liburan dia sselalu mendatangi pusat pameran filateli. Di Jerman, setiap pameran filateli selalu ada prangko dari Indonesia dan juga dari seluruh dunia.  Saat itu ada pedagang prangko yang mengenalinya dan mengatakan dia memiliki surat-surat dari Indonesia, dari Habibie. Menurutnya, Habibie adalah orang terkenal dan dia pernah mendengar namanya. Ichwan terkejut karena ada begitu banyak. Dia lalu memilih dan mencari. Sebagai mahasiswa, lanjut dia, waktu itu dia uangnya tak begitu banyak sehingga hanya 10 surat yang dibelinya. 

[adx]

"Tak terhitung, banyak sekali suratnya. Tapi tak semua dalam bentuk aerogram. Saya pilih aerogram karena langka, waktu edarnya singkat dan saya rasa ini koleksi yang cukup mengesankan," katanya. 

Dia mengumpulkan surat, untuk mencari data sejarah. Contohnya, dia pernah menemukan surat dari seorang pejuang Indonesia yang kepada dunia internasional untuk membatu perjuangan Republik Indonesia kepada sahabatnya.  Kepada pedagang surat tersebut, dia mengatakan darimana dia mendapatkan begitu banyak surat Habibie. 

"Dia katakan Habibie kan lama tinggal di Jerman. Di Hamburg. Dia dapat dari rumah lelang. Dia dapatnya  dari, kalau di sini botot (loak) lah," katanya. 

Dia menduga, sebelum surat-surat itu sampai ke tangannya, botot itu dipanggil si pemilik rumah yang ingin mengosongkan keller atau ruang bawah tanah dari barang-barang yang sudah menumpuk. 

"Saya menduga, Pak Habibie atau Bu Ainun ini menyimpannya dengan rapi lalu meletakkannya di keller itu. Lalu telfon botot untuk mengosongkannya, lalu dari dia disortir sesuai barangnya," katanya. 

[adx]

Dia pun terkejut saat membaca surat-surat itu. Surat itu selalu diawali dengan penyebutan nama Habibie, Ainun, Ilham dan Thareg. "Awalnya kesulitan karena ada basa Belanda, Jawa, dan Indonesia campur Belanda lagi. Isinya cerita kerinduan kepada Rudi, panggilan Habibie. Dia menanyakan keadan keluarga, kesehatan Rudi. Dia juga menyapa Ainun," katanya.

Menurutnya, surat-surat itu keluruhannya adalah spirit kerinduan seorang ibunda di Bandung, RA Habibie kepada anaknya di Hamburg, Jerman. Surat itu, kata dia, ditulis 1967-1970. Saat itu, Habibi tidak lagi mahasiswa. Menggambarkan betapa sayangnya ibu kepada anaknya,  seorang nenek kepada cucunya. Juga digambarkan bagaimana Ilham dan Thareg sakit, lalu si nenek memberikan nasehat.  

"Ini adalah surat yang mengharukan dan terasa menggetarkan dengan tinta biru di aerogram," katanya

Ichwan mengaku waktu itu pernah memfotokopi dan mengirimkannya ke Habibie yang saat itu sudah jadi Wakil Presiden. Dia yakin surat itu diterima ajudannya namun dia tak tahu apakah sampai ke tangan Habibie. 

"Saya katakan saya temukan surat ini, dan saya ingin menyerahkan ke pak Habibie secara langsung. Mudah-mudahan surat lain ditemukan. Tapi lama tak dihubungi," katanya.

Sepulangnya ke Indonesia, Ichwan masih terus berusaha mengembalikannya ke Habibie. Waktu itu ada wartawan Kompas, dan menuliskan dirinya di halaman Sosok. Namun masih belum juga dihubungi sehingga dia meminta dihubungkan dengan sekretaris Habibie. Dia mendapatkan nomornya dan menyampaikan niatnya menyerahkan surat itu secara langsung. 

[adx]

Kemudian, datang lagi seseorang yang akan membuat film Habibie Ainun yang ingin mengambil surat itu untuk dijadikan latar film saat adegan ibunda Habibie menulis surat. Dia mengatakan hanya Habibie yang bisa mengizinkannya. 

Selama sekitar 20 tahun menyimpan surat-surat itu, Ichwan menyatakan, sudah beberapa kali berupaya memberikan surat itu langsung pada Habibie,

namun hingga hari ini belum kesampaian.

"Ingin saya satu hari nanti menyerahkan surat ini ke Pak Ilham Habibie atau Pak Thareq Habibie yang banyak disebut sebut namanya oleh Eyang mereka," harap Ichwan. (mtc)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

Matatelinga.com Meraih Juara Satu, Pembaca dan Pengunjung Terbanyak Pemberitaan Polda Sumut

Berita Sumut

Sukseskan Gerakan ASRI, Forkopimda Sibolga Gotong Royong Massal Bersama Warga

Berita Sumut

Dihantam Banjir Bandang Jalan Desa Kampung Mudik-Aek Dakka Barus Sudah Dapat Dilalui

Berita Sumut

PWI Labuhanbatu Akan Gelar Konferensi IX, Panitia Pelaksana Terbentuk

Berita Sumut

Pemprov Sumut Genjot Pembangunan Infrastruktur Terpadu Lewat Program INSTANSI

Berita Sumut

Polwan Polda Sumut Laksanakan Pengamanan Aksi Unjuk Rasa di Kantor Gubernur Sumut, Dengan Humanis