MATATELINGA, Tobasa: Viralnya demo ibu-ibu tanpa busana di areal Silang leang di Desa Pardamean Sibisa terkait penolakan pembukaan jalan di lokasi BPODT menuai pro-kontra. Banyak masyarakat menyayangkan aksi tanpa busana tersebut. Aksi tersebut membuat para tokoh adat angkat bicara. [adx]"Ada istilah orang Batak mengatakan Tak-tak naso haburian, bugang naso haubatan" (daki yang tidak bisa dibersihkan, luka yang tidak bisa disembuhkan-red) yang artinya harkat dan martabat yang tidak bisa dipulihkan" ungkap Arifin Sitorus.Menurut Arifin Sitorus tokoh masyarakat asal Pintupohan, bahwa aksi tersebut akan tersimpan secara digital karena sudah masuk di media cyber YouTube dan media lainnya. "Semua orang bisa melihat dan semua orang tau termasuk suku lain. Ntah siapa yang mengajari untuk buka baju. Orang Batak apalagi ibu-ibu lebih menjaga harkat dan martabat daripada harus buka baju. Ibu-ibu orang Batak kalau ribut hanya masijanggolaan (jambak-jambakan). Tidak pernah seperti ini" ungkap beliau saat berada di sebuah warung di Sibisa pada Selasa, 17/9/19. [adx]Tokoh masyarakat JMP Sitorus yang sekaligus ketua Lembaga Adat Dalihan Natolu kabupaten Tobasa menyesalkan kejadian tersebut. "Dulu, kalau ada laki-laki mengintip kaum perempuan mandi, pasti diusir dari perkampungan tersebut. Artinya kehormatan perempuan orang Batak sangat dijunjung tinggi. Nah ini, bikin malu kita suku Batak" paparnya."Kita orang Batak jadi malu akibat ulah seperti itu. Bagaimana jika ini dilihat oleh anak, menantu atau saudaranya yang diperantauan?"lanjut beliau.Pembahasan terkait ibu-ibu yang tidak mengenakan baju saat melakukan aksi menolak pembukaan jalan di lokasi BPODT ramai diperbincangkan di setiap warung dan lapo tuak. Banyak yang menyesalkan kejadian tersebut dan bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa ini kejadian aneh. "Seharusnya, kaum ibu-ibu yang melakukan aksi harus lebih menjaga sopan santun karena kita anak ni raja (turunan raja)" ungkapnya. Beliau berharap jangan lagi ada aksi seperti ini. Kalau melakukan aksi jangan sampai seperti itu lagi dan lebih menempuh jalur yang lebih bermartabat. (mtc/pintor)