Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
Dampak Karhutla, Jumlah Penumpang Bus Dari Riau ke Medan Melonjak

Dampak Karhutla, Jumlah Penumpang Bus Dari Riau ke Medan Melonjak

- Kamis, 19 September 2019 15:45 WIB
mtc/ist
Kabut asap yang melanda wilayah Provinsi Riau dalam beberapa hari terakhir memaksa sebagian warga mengungsi ke daerah yang dinilai aman, salah satunya Medan. Kondisi ini membuat jumlah penumpang dari Pekanbaru ke Medan, naik sekitar 10% dalam dua pekan t
MATATELINGA, Medan: Kabut asap yang melanda wilayah Provinsi Riau dalam beberapa hari terakhir memaksa sebagian warga mengungsi ke daerah yang dinilai aman, salah satunya Medan. Kondisi ini membuat jumlah penumpang dari Pekanbaru ke Medan, naik sekitar 10% dalam dua pekan terakhir.

Seperti suasana di salah satu pool bus di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Harjosari II, Kecamatan Medan Amplas, Kamis (19/9), sejumlah bus banyak membawa penumpang yang mengungsi untuk menghindari kabut asap.

Salah seorang karyawan, Viktor Butar-butar mengatakan, peningkatan jumlah penumpang itu dirasakan di tengah musim sepi penumpang saat ini. "Ramainya penumpang biasanya terjadi saat hari raya, musim libur sekolah dan tahun baru. Namun, dalam dua pekan ini, jumlah penumpang naik kira-kira 10 persen," katanya.

Faktor penyebabnya adalah kabut asap karhutla di Riau. Para penumpang itu turun di beberapa titik, misalnya Tebingtinggi, Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, Medan, Binjai Stabat, dan lainnya.

Viktor menambahkan, berdasarkan laporan dari supir bus, asap akibat karhutla telah membuat jarak pandang menjadi pendek. Jika biasanya 200 meter, kini tinggal 50 meter. Sehingga supir harus berjalan lebih pelan. "Tentunya itu memengaruhi waktu tempuh yang biasanya 15 jam, kini lebih satu hingga dua jam," bebernya.

Beberapa penumpang yang turun dari bus masih menggunakan masker. Menurut mereka, masker itu digunakannya sejak keberangkatan dari Pekanbaru. "Sepanjang jalan, terutama dari Riau, kabut asap terus menyelimuti. Jadi pakai masker," kata salah seorang penumpang, Rasiana.

Kenaikan angka jumlah penumpang ini diperkirakan masih akan terus berlanjut. Sebab, kabut asap di Riau hingga kini masih cukup pekat. Medan dijadikan salah satu lokasi bagi warga di sana, karena dinilai relatif lebih aman dari pencemaran kabut asap.

Sementara itu salah seorang warga Riau yang menumpang bus ke Medan, Yehezkiel (33), Warga Desa Karya Tunas Jaya, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau mengaku terpaksa mengungsi bersama istri dan anaknya yang masih berusia 8 bulan, karena kondisi udara di daerahnya sudah tak sehat lagi.

"Banyak anak-anak di sana yang mulai sakit. Sakit kepala dan mual-mual," katanya.

Dia bersama keluarganya, menumpang bus selama belasan jam dari daerahnya ke Medan. Kebetulan, orang tua istrinya tinggal di Medan.  Dia menceritakan, kabut asap di daerahnya makin hari makin pekat. Kebakaran kebun sawit dan lahan milik warga maupun perusahaan terus memburuk. Kabut asap menbuat jarak pandang warga di sana menjadi terbatas.

Anak-anak dan orang dewasa terancam mengalami gangguan kesehatan. Banyak dari mereka yang sudah terindikasi terserang penyakit pernapasan. Dia termasuk orang yang cukup beruntung, karena masih memiliki keluarga yang tinggal di Medan.

Sebab, di daerah tempatnya tinggal, sebagian besar warganya merupakan pendatang dari daerah Jawa, yang ikut program tranasmigrasi di era Orde Baru silam. Sebagian besar dari mereka tak bisa berbuat banyak, terpaksa menghirup udara bercampur asap selama 24 jam.

Kondisi ini juga membuat anak perempuannya, Yoselin yang masih berusia 8 bulan, sempat sakit selama dua hari. Menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi pada anaknya, mereka memutuskan mengungsi ke Medan.

"Kemungkinan kita akan tinggal di sini hingga tiga minggu. Atau hingga kondisi di sana mulai pulih," ungkapnya. (mtc/fae)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait

Berita Sumut

Jaga Ruang, Alat dan Kondisi (RAK) Juang Wilayah, Babinsa Pulau Medang Edukasi Tentang Hukum Dan Bahaya Karhutla

Berita Sumut

Babinsa Desa Laboh Gencarkan Komsos, Cegah Karhutla Dan Perkuat Kesadaran Warga Jaga Lingkungan*

Berita Sumut

Sigap! Polsek Bangun Polres Simalungun Tangani Kebakaran Lahan 4 Hektare

Berita Sumut

Sumber Air Terbatas, Jarak Lokasi Jauh Hambat Pemadaman Karhutla di Bakongan

Berita Sumut

Titik Api Karhutla di Desa Pasi Lembang Berhasil Dipadamkan Polsek Kluet Selatan

Berita Sumut

Polres Simalungun Tunjukkan Responsivitas Tinggi dalam Penanganan Karhutla di Perbukitan Sihorbo