MATATELINGA, Medan: Dua guru besar yang mengabdikan diri di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia (FK UMI) Medan memiliki pengaruh yang sangat besar ketika Tim akreditasi dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LM PTKes) Indonesia melakukan verifikasi dan visitasi terhadap Prodi Fakultas Kedokteran Umum (S.Ked) dan Program Profesi (dr), di gedung FK UMI Jalan Setia Budi Pasar II Tanjung Sari Medan.[adx]Menurut Dekan FK UMI Medan, dr. Eka Samuel P Hutasoit, SpOG,MM, pada saat acara ibadah dan syukuran pencapaian Akreditasi B, Sabtu (26/10/2019) keberadaan guru besar di kampus UMI Medan, khususnya dua guru besar di FK UMI adalah orang-orang yang benar-benar memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan lewat pengetahuan yang mereka peroleh. Dan dua guru besar ini memiliki latar belakang bahwa S-1 dan profesi dokternya diperoleh dari UMI Medan.Seperti Prof. Dr. dr. Hadyanto Lim yang sudah mengajar puluhan tahun di FK UMI Medan, telah menerbitkan buku-buku penting terkait dengan bidang kesehatan dan ilmu kedokteran. Kemudian, Prof.Dr. dr. Thomson Nadapdap yang dalam pidato ilmiahnya menyampaikan materi tentang Pengaruh Chitosan terhadap Infertilitas.
Prof. Hadyanto Lim dan Prof. Thomson P NadapdapSaat ditemui di acara syukuran pencapaian Akreditasi B FK UMI Medan, Thomson P Nadapdap yang sehari-hari bertugas sebagai dosen di FK UMI Medan, pernah menjabat Dekan Fakultas Kedokteran dan Rektor Universitas Methodist Indonesia Medan.[adx]"Ke depan, mahasiswa, alumni dan para tenaga pengajar yang ada di Fakultas Kedokteran UMI Medan kita dorong untuk meningkatkan kualitasnya melalui penelitian dan penulisan karya ilmiah dalam jurnal nasional dan internasional," paparnya.Rektor UMI Medan Humuntal Rumapea juga mendorong para dosen untuk melanjutkan pendidikan dari S-2 ke jenjang pendidikan S-3. Hal ini perlu dilakukan untuk lebih meningkatkan kemampuan para dosen yang menjadi tenaga pengajar bagi para mahasiswa sebagai 'agent of change'.