Warning: include_once(../admin/SimpleImage.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2

Warning: include_once(): Failed opening '../admin/SimpleImage.php' for inclusion (include_path='.:/opt/cpanel/ea-php72/root/usr/share/pear') in /home/matateli/public_html/amp/detail.php on line 2
1576,6 Hektar Tanaman Padi di Sumut Terendam Banjir

1576,6 Hektar Tanaman Padi di Sumut Terendam Banjir

- Sabtu, 02 November 2019 11:15 WIB
mtc/ist
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara mencatat ada sekitar 1576,6 hektare tanaman padi sawah terendam banjir hingga 25 Oktober 2019 kemarin. Sebanyak 232 hektare di antaranya mengalami gagal panen.
MATATELINGA, Medan: Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara mencatat ada sekitar 1576,6 hektare tanaman padi sawah terendam banjir hingga 25 Oktober 2019 kemarin. Sebanyak 232 hektare di antaranya mengalami gagal panen. 

[adx]

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Utara (PTPH Sumut), Marino menjelaskan  banjir itu melanda di empat kabupaten dari 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara.

Empat kabupaten itu yakni Mandailing Natal (Madina), Tapanuli Selatan (Tapsel), Batubara, dan Deliserdang. Dijelaskannya, Kabupaten Madina mengalami kebanjiran paling luas, yakni 1263,5 hektare. Tiga kabupaten lainnya, Tapsel seluas 43,5 hektare, Batubara seluas 148 hektare, dan Deliserdang seluas 121,5 hektare. 

"Total lahan padi sawah yang terkena banjir itu seluas 1576,6 hektare, dengan yang mengalami puso seluas 233,2 hektare," katanya  ketika dikonfirmasi wartawan, Jumat siang (1/11/2019). 

Marino menjelaskan, varietas padi yang ditanam petani bervariasi, yakni ciherang, inpari 32-39 mekongga. Begitu juga dengan usia tanaman, mulai dari 1 hingga 40 hari. Menurutnya, masih ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh petani yang lahan padi sawahnya terkena banjir. 

[adx]

Ada tiga hal yang direkomendasikan, pertama menginstruksikan kepada petugas POPT-PHP agar meningkatkan pengamatan untuk melihat perkembangan dampak bencana alam banjir terhadap pertanaman dan melaporkannya. 

Kedua, melakukan pompanisasi dan permbersihan saluran irigasi serta mengaktifkan posko-posko baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. 

Menurutnya, jika pertanaman padi sawah mengalami puso, petani padi masih lebih beruntung daripada petani hortikultura seperti cabai dan bawang. "Bantuan untuk padi sawah itu ada dari Cadangan Benih Daerah (CBD)," katanya. 

Dihubungi via telepon, Rahmad, seorang petani di Desa Sidodadi, Kecamatan Beringin, Deliserdang mengatakan curah hujan memang tinggi hingga kini sejak Oktober lalu. Namun demikian, sebagian petani masih terbantu dengan adanya ala untuk memompa.

[adx]

"Kalau banjir ya dilakukan pompanisasi. Itu untuk buang airnya. Kalau tidak parah ya. Mudah-mudahan jangan banjir lah. Sayang kali kalau udah mau panen tapi harus memulai dari awal karena kebanjiran," katanya.

Hal serupa diungkapkan petani di Desa Karanganyar, di kecamatan yang sama, Karmin. Menurutnya, selama saluran irigasi terjaga dengan baik, maka banjir bisa dihindari. "Banjir itu kan karena alurannya penuh atau ada sumbatan. Kalau itu beres, tak akan banjir. Untungnya di sini irigasi sudah bagus," katanya. (mtc)

Editor
:

Tag:

Berita Terkait