MATATELINGA, Medan: Sejak dibangun tahun 1997, Strike Bowl Yuki Simpang Raya Medan masih tetap beroperasi hingga saat ini. Bahkan, Strike Bowl kini menjadi satu-satunya lintasan boling di Kota Medan dan Sumatera Utara. Sejak Perisai Super Bowl Medan tutup, praktis aktivitas olahraga bola gelinding kini hanya bisa disaksikan warga Sumut di Strike Bowl Yuki Simpang Raya. Di Medan, olahraga yang masuk kategori mahal ini memang belum punya peminat sebanyak cabang sepakbola. Peminat olahraga ini terbilang masih angin-anginan. Kecuali atlet Persatuan Boling Indonesia (PBI) Sumut, selebihnya bermain boling masih sebatas melepas penasaran, belum menjadi rutinitas hobi seperti sepakbola atau futsal. Hal ini yang membuat Strike Bowl Yuki Simpang Raya kadang sepi aktivitas. Sesekali memang tampak ramai khususnya pada akhir pekan. Namun manajemen Strike Bowl tampaknya tidak terlalu memusingkan hal itu. Toh lintasan ini tetap bertahan. Bahkan, Strike Bowl terus berbenah, dari awalnya menggunakan sistem hitung skor secara manual, kini sudah sistem digitalisasi. Posisinya yang dulu berada di basement pun sudah berpindah ke lantai tiga sejak beberapa tahun lalu. [adx]Hanya saja, dari awalnya terdapat 20 line saat berada di basement, kini tersisa tinggal delapan line saja. Hal ini tentunya bagian dari upaya manajemen melakukan efesiensi agar Stike Bowl tetap bisa bertahan hingga saat ini dan aktivitas boling di Medan tetap berjalan. Owner Strike Bowl Yuki Simpang Raya Medan, Robin Bee, membenarkan bisnisnya yang satu ini memang merugi. Namun karena kecintaannya terhadap olahraga boling dan niatnya agar boling tetap hidup di Kota Medan membuatnya tak terlalu hitung-hitungan. "Dulu niat saya membangun Strike Bowl ini selain bisnis, juga ingin Medan punya atlet boling. Kalau hanya memikirkan bisnis, Strike Bowl ini mungkin sudah tidak ada. Tapi karena demi boling tidak mati, lintasan ini tetap ada hingga kini," ujar Robin Bee saat menyaksikan latihan tim boling Siwo PWI Sumut yang sedang persiapan menuju Porwanas 2020, baru-baru ini. Lebih lanjut Robin mengatakan, baginya bisnis tidak selalu harus untung. "Dalam kehidupan kita perlu berbuat sosial (kebaikan). Banyak cara bisa dilakukan dan saya dengan cara ini," ucap pria berusia 65 tahun ini. [adx]Robin yang terus mengikuti perkembangan olahraga boling di Sumut, mengaku bersyukur saat ini prestasi boling Sumut terus mengalami kemajuan pesat, termasuk membuat sejarah meraih medali emas pada PON 2016. Selain itu, Sumut juga sudah membuat sejarah meraih juara umum Kejurnas 2018 di Palembang dengan menyabet 3 medali emas dan 1 perak. Lalu pada Kejurnas 2019 yang juga berlangsung di Pelembang, Sumut meraih 1 emas, 2 perak dan 3 perunggu. "Itu tentu capaian prestasi yang sangat membanggakan. Apalagi setidaknya Strike Bowl turut punya andil dalam latihan atlet walau dengan kondisi line di sini yang masih kurang kualitasnya dibanding dengan lintasan boling di kota-kota lain," ucap Robin. Dalam kesempatan ini, Robin juga mengatakan pihaknya siap membuka diri untuk jalinan kerjasama yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak. Manajemen Strike Bowl siap memberikan diskon games bagi pelajar atau guru-guru olahraga yang ingin konsisten bermain boling. "Intinya saya ingin memberikan sumbangsih untuk kemajuan boling di Sumut. Saya ingin boling di Medan tetap hidup, jangan sampai mati. Namun tentu kami juga butuh dukungan agar Strike Bowl ini tetap bisa beroperasi dengan normal," ucap Robin Bee. (bejo)