MATATELINGA, Medan: Saat meninjau Pusat Pasar Medan pada Rabu (4/12/2019), Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan tim dari Kementerian Pedagangan (Kemendag) menemukan adanya beras Bulog berbau apak yang dijual pedagang pasar. Temuan ini ini sendiri berawal dari keluhan salah seorang pedagang yang saat itu ditemui Gubsu dan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tata Niaga (PKTN) Kemendag, Veri Anggrijono.[adx]Saat itu, Edy berbincang dengan salah seorang pedagang beras, bernama Acun. Di saat itu lah, Acun mengeluhkan adanya beras yang berbau apak ini."Kalau bisa, beras ini diambil saja, Pak. Tak laku. Bau," kata Acun kepada Edy.Pedagang itu kemudian membeberkan bahwa beras itu dipasoknya dari Bulog, kira-kira sepekan yang lalu. Namun, hingga kini belum ada konsumen yang mau membeli beras itu karena bau apek. Adapun beras yang berbau itu adalah jenis beras medium. Edy kemudian mencium beras dari dalam karung itu. Benar saja, beras itu berbau. "Iya bau apek. Mana Bulog? Tarik saja yang berbau," ucap Edy.Bulog sendiri melempar dua jenis beras di pasaran, yakni beras medium dan premium. Tak puas dengan satu pedagang, Edy yang penasaran kemudian menjumpai pedagang beras yang lain.[adx][adsenseHal yang sama juga disampaikan pedagang tersebut. Lantas, Gubsu memerintahkan Perum Bulog untuk segera menarik beras-beras itu.Rombongan kemudian menuju mobil boks milik Bulog yang terparkir di depan pintu masuk pasar itu. Di sana juga ada beras yang akan dijual ke pedagang. Setelah dicek, beras medium yang ada di sana juga berbau.Untuk meminta penjelasan atas beras berbau apek ini, Gubsu dan rombongan kemudian menuju gudang Bulog di Jalan Mustafa. Edy kemudian meminta petugas untuk mengambil sampel beras yang ditunjuknya. Setelah dicium, beras impor asal Thailand tersebut juga berbau. Selain dari Thailand, beras medium yang dipasok dari India juga berbau.Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sumatera Utara, Arwakhudin Widiarso mengatakan, dengan temuan sebagian beras berbau, menurutnya ada persoalan umur simpan. Pihaknya akan melakukan evaluasi. "Tapi yang jelas beras yang ada tadi secara visual masih cukup bagus karena saat dibeli dalam kondisi bagus. cuma di persoalan umur simpan," katanya. [adx]Beras impor asal Thailand dan India ini lanjut Widiarso telah disimpan dalam kurun waktu kurang lebih setahun. Sebab, beras-beras tersebut dipasok sejak akhir 2018 silam."Yang mulai bau, itu sebagian ya, itu (dipasok) akhir 2018. Biasanya akan dilakukan uji laboratorium. Yang akhir 2018 itu (jumlahnya) sekitar 20 ribu ton,"pungkasnya. (mtc/fae)