MATATELINGA, Medan: Sejumlah tradisi yang biasa digelar saat bulan puasa Ramadhan pada tahun ini terpaksa ditiadakan akibat dampak dari Covid 19. Di Masjid Raya Al Mashun misalnya. Pengurus Masjid meniadakan tradisi bagi-bagi bubur sop sebelum berbuka puasa.Tradisi bagi-bagi bubur sop sebelum berbuka puasa ini sudah dilakukan ratusan tahun lamanya di mesjid kebanggaan warga Medan itu. Pada Ramadan sebelum-sebelumnya, biasanya Masjid peninggalan Kesultanan Deli itu ramai pengunjung. Masyarakat pun sampai berebutan menunggu. Bahkan, sabar menunggu berjam-jam, menyaksikan para juru masak menanak bubur.Tidak akan ada lagi wangi rempah dari racikan bumbu sop yang mendidih di dalam belanga. Akan tidak ada lagi suara riuh anak-anak, yang meminta dituangkan bubur ke wadah yang dibawanya.“Kalau bubur sudah gak ada lagi. Memang sudah disiapkan kayu dan bahann bahanyya. Cuma kondisi saat ini kita kan maklum. Kita semuanya petunjuk dari pemerintah supaya ditiadakan,” kata Imam Masjid Raya Al Mashun Zaini Hafiz, Kamis (23/4).Bubur Sop menjadi santapan raja-raja Melayu di masanya. Setiap Ramadan, biasanya Masjid Raya menyediakan 1.000 porsi bubur. Dibagikan setelah salat Ashar.Pengunjung yang datang juga bukan hanya dari Kota Medan saja. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari kabupaten lain, hanya untuk mencicipi bubur kaya khasiat itu.Dulu banyak yang mengira, bubur sup adalah bubur pedas. Ternyata itu salah. Karena ada perbedaan yang signifikan antara keduanya. Untuk bubur pedas biasanya disantap dengan anyang, yaitu sayur pakis dan toge yang diolah sedemikian rupa dengan cabai, udang kering, kelapa kukur goreng dan asam jeruk.Sedangkan bubur sop berbahan dasar beras, daging dan sayuran. Ditambah rempah-rempah sebagai bumbu masaknya.Ramadan kali ini, bubur sop ditiadakan pertama kalinya. Menjadi kerinduan masyarakat yang biasa menunggunya kala berbuka puasa.[br]Sementara untuk ibadah salat Tarawih berjamaah tetap dilakukan diMasjid Raya Al Mashun,. Namun hanya untuk jiran tetangga masjid saja.Lantaran, pihak Badan Kenaziran Masjid juga sudah melihat, penurunan jumlah jemaah yang hadir di masa pandemik. Paling tidak hanya dua saf (deret) saja jemaah yang hadir.“Karena masyarakat sepertinya sudah paham dan tau, imbauan kan sudah banyak utnuk beribadah di rumah,” ungkap Zaini.Bahkan jarak saf juga diatur. Antara jemaah diberi jarak satu sajadah supaya tidak bersentuhan atau bersinggungan.“Kita sebelum sebelumnya sudah sempat membagikan sajadah kecil kepada masyarakat sekitar. Sajadah kecil untuk jemaah. Dengan catatan jangan sampai tertinggal. Kalau selesai salat jangan ditinggal. Supaya jangan tertukar sama yang lain,” ungkapnya.[br]Selain bubur sop, BKM Al Mahsun juga meniadakan tadarus dan pengajian lainnya. Jemaah diimbau untuk bertadarus di rumah masing-masing.Pembatasan ini harus dilakukan untuk mencegah potensi penularan corona. “Ditiadakan karena kondisinya tidak memungkinkan. Kita juga harus melakukan upaya pencegahan,” pungkasnya. (mtc/fae)