Matatelinga - Jakarta, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) saat ini merupakan perbankan pelat merah yang tidak efisien dibandingkan dengan tiga perbankan pelat merah lainnya, seperti PT Bank Mandiri (Mandiri), PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BNI).Pengamat perbankan Edwin Sinaga mengatakan, dengan efisiensi yang rendah ini, perubahan struktural permodalan dan sumber pendanaan perlu segera dilakukan pemerintah agar BTN ke depannya bisa bersaing dan tumbuh menjadi bank yang kuat dan tangguh.Adapun, kata Edwin, BOPO BTN per Desember 2013 yang mencapai 82,19 persen, dan itu menandakan bahwa bank pelat merah tersebut tidak efisien. Angka BOPO BTN memang jauh lebih tinggi dibandingkan Mandiri 67,66 persen, BNI 67,1 persen, serta BRI 60,58 persen."Data 2013 perbankan memang (BTN) kurang efisien. Ini terjadi karena banyak macam. Misalnya ruangan kantor seharusnya muat 10 orang sekarang diisi 15 orang. Kantornya segitu gitu aja. Jadi tidak efisien kerjanya," ucap Edwin ketika dihubungi wartawan, Jakarta.Selain tidak efisien, Edwin juga melihat BTN tidak mampu mengkapitalisasi aset karyawannya secara maksimal guna memperbesar perolehan laba bersihnya. Hal ini terlihat dari kontribusi yang diberikan setiap karyawan BTN ke perolehan laba bersih perusahaannya.Oleh karena itu Edwin, agar BOPO BTN turun maka diperlukan tambahan modal usaha. Tambahan modal ini bisa datang dari pemerintah ataupun melalui pinjaman. Namun, jika melihat situasi seperti saat ini, hal yang pantas ditempuh dalam mencapai penambahan modal dapat dilakukan dengan proses akuisisi sesama perbankan pelat merah, dapat dilakukan kepada Mandiri, maupun perbankan pelat merah lainnya.Pasalnya, dengan diakuisisinya BTN oleh Mandiri akan menambah besar bisnis BTN sehingga angka BOPO bisa menjadi lebih kecil atau bisa lebih efisien.Tidak hanya itu, tidak efisiennya BTN dapat dilihat dari setiap karyawan BTN hanya mampu menyumbang laba bersih sebesar Rp 195 juta, jauh dibandingkan karyawan Bank Mandiri yang mampu menyumbang Rp 554,09 juta, BNI Rp 347 juta, dan BRI sebesar Rp 260,5 juta. Edwin Sinaga menilai, dari perhitungan revenue per head account terlihat bahwa BTN kurang efisien. Rendahnya tingkat produktivitas karyawan BTN tersebut disebabkan efisiensi dan kemampuan BTN yang sangat terbatas untuk ekspansi."Ini menunjukkan secara company, BTN tidak mampu memperbesar bisnisnya, karena keterbatasan modal. Akibatnya, BTN tidak mampu mengoptimalkan asetnya, termasuk produktivitas para karyawannya, menjadi tidak optimal pula dalam mengontribusi ke laba bersih," tutupnya.(KNIA/Okz)