MATATELINGA, Jakarta: "Menjelang rilis data PDB Indonesia kuartal II-2020 pada Rabu, yang diperkirakan kontraksi 6,2%, setelah di kuartal pertama terkontraksi 2,4%. Hal ini mengindikasikan ancaman resesi semakin nyata karena dua kuartal telah berturut-turut mengalami kontraksi," ujar Alwi, Senin (3/8/2020).Sebut Alwi, kekhawatiran resesi juga muncul karena meningkatnya jumlah kasus virus di dalam negeri, khususnya di Jakarta. Hal ini kemudian meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa Jakarta akan kembali memberlakukan PSBB secara ketat. Ini juga terkait peringatan dari Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan yang akan menarik emergency brake jika situasi lonjakan kasus virus corona terus berlangsung."Pelemahan rupiah ini terjadi, bahkan ketika data ekonomi dalam negeri mulai membaik. Markit manufacturing PMI terkontraksi 46,9 di Juli, di mana angka tersebut lebih baik dari bulan sebelumnya yang kontraksi 39,1, dan di atas perkiraan 42,3. Kemudian data inflasi yang rendah, yang biasanya positif bagi pergerakan SBN, juga gagal mengangkat sentimen untuk rupiah," tambah Alwi seperti dilansit Kontan.Dengan kondisi tersebut, Alwi memproyeksikan rupiah pada perdagangan besok akan berada di kisaran Rp 14.540 per dolar AS-Rp 14.710 per dolar AS.Menyambut perdagangan Selasa (4/8/2020), rupiah diperkirakan belum akan keluar dari tekanan. Pada Senin (3/8/2020), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,21% ke level Rp 14.630 per dolar Amerika Serikat (AS).Pelemahan tidak hanya terjadi di pasar spot, namun juga di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Mata uang Garuda ini ditutup terdepresiasi 0,51% ke level Rp 14.713 per dolar AS.Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf memproyeksikan rupiah akan berpotensi melanjutkan pelemahan besok. Salah satu faktor penyebabnya diperkirakan akan datang dari sentimen data dalam negeri.