MATATELINGA, Melbourne: Pagi iniharga minyak mentah kembali jatuh pada perdagangan hari ini usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan telah menghentikan pembicaraan terkait stimulus baru hingga pemilihan presiden kelar.
Pada perdagangan Rabu (7/10) pukul 09.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2020 melemah 1,6% ke US$ 41,96 per barel. Padahal di sesi sebelumnya, Brent melesat 3,3%.
Baca: Harga minyak naik tipis Usai Donald Trump Kembali ke Gedung Putih
Serupa harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman November 2020 juga kembali ke bawah US$ 40 per barel setelah turun 2% menjadi US$ 39,86 per barel. Pada Selasa (6/10), harga minyak ditutup menguat 3,7%.
Tekanan bagi harga emas hitam ini bertambah karena laporan industri minyak AS yang mengisyaratkan stok minyak mentah naik untuk pertama kalinya dalam empat pekan terakhir.
Baca: HUT ke 115 PDAM Tirtanadi Sumut Berbagi Kepada Anak Yatim dan Fakir Miskin di Seluruh Kantor Cabang dan Panti Asuhan.
Pukulan telak bagi harga minyak datang setelah Trump memerintahkan negosiator nya untuk menghentikan diskusi dengan para pemimpin Demokrat hanya beberapa jam setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyerukan untuk lebih banyak pengeluaran guna menghindari kerusakan pada pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam tersebut.
Padahal, sebelumnya Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan bahwa pembicaraan antara Gedung Putih dan Partai Demokrat terkait paket bantuan baru untuk pandemi virus corona hampir semakin intens.
"Paket fiskal akan memberikan kepercayaan bagi investor dan fakta bahwa paket tersebut tidak jadi keluar bisa meningkatkan risiko bagi ekonomi AS," kata Vivek Dhar, analis komoditas Commonwealth Bank of Australia.
Tekanan lanjutan bagi harga minyak semakin dalam setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak AS malah naik pada pekan yang berakhir 2 Oktober lalu. Di sisi lain, persediaan bensin dan sulingan AS berhasil turun di pekan lalu.
Sementara itu, data pemerintah AS baru akan keluar Rabu (7/10) waktu setempat. Berdasarkan median dari haril survei Bloomberg, para analis memprediksi, stok minyak mentah turun 1,2 juta barel pada pekan lalu.
Ancaman Badai Delta yang diperkirakan menjadi Badai Kategori 4 ini membuat sejumlah operator migas di Pantai Teluk Meksiko AS menutup 29% dari total produksi minyak.