Matatelinga - Jakarta,Potensi krisis bisa terjadi karena mandeknya beberapa pembangkit listrik seperti PLTU Batang Jawa Tengah dan tingginya kebutuhan akan listrik. Krisis listrik yang terjadi di pulau Jawa memang sudah diperkirakan, bahkan hal tersebut diperkirakan akan terjadi di Indonesia pada 2018. Menurut Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji, krisis listrik bisa dicegah dengan cara membangun beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU)."Bisa, secara teknologi dimungkingkan. Ada teknologi pembangkit listrik yang bisa menghasilkan dalam waktu dua tahun, yakni PLTGU," ucap Nur di Jakarta, Rabu (28/5/2014) malam.Nur menambahkan, hal ini perlu dukungan pemerintah pasalnya membangun PLTGU cukup menguras kantong."Bisa, uangnya harus ada, harus dipikirin bareng-bareng supaya ada. Asumsi saja ya, sekira USD1 juta per Mega Watt (MW). Kalau kita butuhnya 2.000 mw ya kalikan saja USD1 juta jadi USD2 miliar atau Rp20 triliun," tegas Nur.Kendati demikian, Nur mengungkapkan dirasa tidak akan sulit mencari pendanaan sebesar itu untuk membangun PLTGU. Pasalnya, Perusahaan pelat merah ini telah memiliki kemampuan untuk pendanaan baik dalam negeri mauapun dari luar negeri. "Orang banyak yang ingin minjemin PLN. Dapat Rp20 triliun bisa diupayakan. Buktinya saja, PLN bisa mendapatkan dana Rp 10 triliun dari penerbitan bond," jelasnya.Sebelumnya, Direktur Perencanaan dan Afiliasi PT PLN, Murtaqi Syamsuddin mengaku pihaknya tengah menyiapkan beberapa upaya alternatif untuk perwujudan target tersebut. Walaupun menurut dia, langkah alternatif belum tentu mulai."Kita harus mencari alternatif sumber pasokan yang bisa dieksekusi cepat menggunakan lahan yang sudah ada," tutur Murtaqi.Proyek lainnya seperti Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Grati, Jawa Timur dan PLTGU Muara Karang dan PLTGU Tanjung Priok juga perlu didorong realisasi dan peningkatan kapasitasnya guna memastikan pasokan listrik.Kedua PLGTU tersebut, mampu menghasilkan pasokan sebesar 400 MW. Sehingga totalnya adalah sekitar 1200 MW atau masih kurang 800 MW dari yang seharusnya. Namun masih lebih baik dibandingkan dengan kekurangan 2.000 mw.(Okz/Mt-01)